Tak Segera Sekolah, Siswa Karanganyar Siap Demo Mendikbud

pendidikan-karanganyar
WEBINAR DARING - Webinar pendidikan daring di Karanganyar.(suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Sistem belajar daring, belajar dari rumah rupanya menjadikan siswa jenuh. Ribuan pesan pendek (WA) masuk ke nomor ponsel Bupati Juilyatmono. Mereka menanyakan siapa sebetulnya yang melarang siswa sekolah.

‘’Saat saya jawab Mendikbud Nadiem, siswa mengejar, berapa nomor ponselnya, kami siap protes, kalau perlu saya demo ramai-ramai agar mengizinkan siswa segera sekolah dan bertemu guru untuk belajar biasa,’’ kata Bupati Juliyatmono saat webinar pendidikan daring bersama narasumber dari Dinas Dikbud Karanganyar, Rabu.

Di satu sisi adanya siswa yang siap protes ke Mendikbud itu menjadi masukan positif. Betapa kebutuhan tatap muka, sekolah yang betul, itu sangat dirindukan siswa dan semua stakeholder pendidikan, termasuk orang tua, guru dan lainnya.

“Harus diakui posisi guru di kelas memang tidak tergantikan oleh teknologi. Sehingga tatap muka, interaksi langsung dengan siswa pun sesuatu yang juga menjadikan profesi guru itu sebagai idola siswa dan semuanya,” ucap Juliyatmono.

Di sisi lain, situasi dan kondisi yang terjadi memang menuntut harus dilakukan pendidikan berproses lewat teknologi. Teknologi hal yang tidak terelakkan termasuk proses belajar mengajar. Dengan teknologi proses pendidikan tetap bisa berjalan.

Karena itulah awal September Bupati akan nekat menggelar tatap muka pendidikan, sekolah yang sesungguhnya. Sebab daerah lain juga sudah mulai ada yang melaksanakan. Mungkin bisa kelas satu SD dan SMP dulu untuk mengenalkan guru dan lingkungan sekolahnya jangan sampai mereka terlanjur sekolah tapi tidak kenal siapa gurunya.

Tetap dengan mematuhi protokol kesehatan proses tatap muka sekolah dilakukan. Setelah kelas I bisa berlanjut kelas lainnya, tetap dalam pengawasan ketat. Dan satu hal proses tatap muka dilengkapi dengan surat pernyataan orang tua yang menyetujui sekolah langsung itu, sehingga jika ada sesuatu merupakan tanggung jawab bersama.

Selain itu sambil menyiapkan sekolah tatap muka, Diskominfo ditugasi melacak setiap daerah yang kurang sinyal, agar nanti ada titik terang mengarahkan siswa belajar bersama di titik yang memang sinyalnya kuat. Jika perlu pemerintah akan membantu dengan perangkat teknologi yang bisa menguatkan sinyal.

Ini agar pelajaran sistem daring bisa terlaksana dengan baik karena kendala sinyal bisa teratasi di semua daerah. Sehingga semua siswa tidak ada yang mengeluh lagi harus belajar di kuburan, di atas pohon karena mencari sinyal ponsel.

Sedangkan keluhan kuota ponsel sehingga orang tua banyak mempertanyakan bantuan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), Bupati meminta Dinas Dikbud untuk mencermati kemungkinan dana BOS dipakai untuk bantuan kuota.

‘’Namun tentu saja tidak semua karena kalau semua minta tidak cukup. Mungkin dananya bisa diujudkan dalam bentuk teknologi penguat sinyal bagi daerah yang tidak memungkinkan, itu lebih pas. Namun dia ingin Dinas Dikbud mencermati itu.”

Kadis Dikbud Karanganyar Tarsa mengatakan, sebetulnya Mendikbud salah jika menggunakan tolok ukur Jakarta untuk melarang sekolah tatap muka. Sebab tiap daerah kondisinya berbeda. Jika dalam perjalanannya memang berbahaya, ya dihentikan. Itu sebetulnya kekhawatiran berlebihan.(Joko DH)

Tinggalkan Pesan