SD 3 Sukoharjo Wonogiri Tak Ingin Kalah oleh Pandemi, Mengajar di Bawah Pohon Pun Jadi

sd-3-sukoharjo-wonogiri
DIDAMPINGI GURU : Murid-murid SD 3 Sukoharjo, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri belajar kelompok di lingkungan mereka dengan didampingi guru, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Dok)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Pandemi virus corona (Covid-19) membuat para siswa tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Mereka hanya dapat belajar secara online atau dalam jaringan (daring).

Namun, siswa di beberapa tempat tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar secara online karena ketiadaan sinyal internet. Alhasil, para guru harus memutar otak agar para siswa tetap mendapatkan pendidikan.

Seperti yang dilakukan guru-guru SD 3 Sukoharjo, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Mereka harus mendatangi anak-anak di lingkungannya untuk membimbing pembelajaran.

Kepala SD 3 Sukoharjo Yudo Tri Kuncoro mengatakan, sebagian wilayah Desa Sukoharjo kesulitan mengakses sinyal internet, sehingga anak-anak kesulitan jika diberi tugas secara online. “Di sekolah kami bahkan sulit sinyal,” katanya, baru-baru ini.

Akibatnya, tugas yang diberikan kepada siswa baru bisa terkumpul beberapa hari kemudian. “Anak-anak kalau mau mengirim tugas harus cari sinyal dulu. Tugasnya hari ini, baru dikumpulkan beberapa hari kemudian,” terangnya.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, para guru akhirnya harus mendatangi lingkungan tempat tinggal para murid. Seluruh guru dijadikan satu tim kemudian mendatangi anak-anak sepermainan.

Ketika mendatangi sebuah dusun atau RT, para guru mencari anak-anak. Kemudian masing-masing kelas dikumpulkan di tempat tertentu. Ada yang belajar di pos kamling, teras rumah, hingga di teras tepi jalan. “Walaupun cuma menemukan satu anak, kami tetap memberikan pembelajaran,” ujarnya.

Pembelajaran berbasis teman sepermainan itu tetap menerapkan protokol kesehatan. Adapun materi yang diberikan lebih difokuskan kepada pendidikan karakter.

Pendidikan karakter menurutnya harus tetap ditanamkan. “Kalau mengejar materi dalam kondisi seperti ini jelas tidak mungkin. Karena itu kami fokus pada pendidikan berbasis karakter,” imbuhnya.

Deni Suseno, guru SD tersebut mencontohkan, selama ini murid-murid di sekolah telah ditanamkan kebiasaan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik lalu membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, kebiasaan untuk tidak mencontek atau mengerjakan soal dengan kemampuan sendiri juga ditanamkan di sekolah. Kebiasaan itu telah tertanam dengan baik di sekolah.

Namun, ketika pembelajaran di sekolah berhenti dan digantikan dengan pembelajaran secara online, karakter yang telah ditanamkan bisa hilang. “Saya yakin, anak-anak yang belajar di sekolah akan berbeda dengan belajar di rumah,” katanya.

Pembelajaran berbasis teman sepermainan itu semula diadakan dua kali dalam sepekan. Namun, dua pekan belakangan ini terjadi lonjakan Covid-19. Alhasil, pembelajaran berbasis teman sepermainan itu terpaksa dihentikan. “Kami tidak ingin mengambil risiko,” ujarnya. (Khalik Yogi)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan