Kita Punya Busana Sesuai Ciri Kepribadian Indonesia Tak Perlu Ikut-ikutan Budaya Asing

forum-seminar-busana3
WORKSHOP BERBUSANA : Workshop tentang busana adat di Keraton Surakarta, dijelaskan KPH Raditya Lintang Sasangka melalui presenter dengan menunjukkan contoh-contoh dan memperagakan cara mengenakannya di depan para peserta seminar di KSPH Solo, tadi siang (9/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Seminar Workshop ”Busana Adat Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai Identitas Budaya Nasional”

SOLO,suaramerdekasolo.com – Bangsa Indonesia yang telah lama memiliki ciri budaya yang berkarakter kuat sebagai sebagai warisan leluhur di Nusantara ini, telah menjadi ciri kepribadian bangsa yang membanggakan, santun dan mudah dikenali karena berbeda dengan bangsa-bangsa lain.

Termasuk cara-cara dan jenis busananya yang diakui sebagai busana nasional, karena memiliki ciri kepribadian kuat sebagai busana resmi bangsa. Untuk itu, ciri kepribadian manusia yang berbudaya Indonesia ini harus dijaga dan dilestarikan sampai kapanpun.

”Jangan sampai, budaya kita dalam berbusana, terpengaruh oleh gaya busana asing yang terus berdatangan silih berganti ke tanah air. Tertarik mengenakan busana fashion dari negara lain boleh-boleh saja. Tetapi jangan sampai dijadikan ciri kepribadian dalam berbusana,” tegas GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com pendapa Kusuma Sahid Prince Hotel (KSPH), Minggu siang 9/8).  

Sudah Lengkap dan Paripurna

Hal yang disampaikan itu, merupakan bagian yang diucapkan dalam sambutannya selaku penanggungjawab penyelenggara Seminar Workshop ”Busana Adat Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai Identitas Budaya Nasional”. Berbagai hal lain yang berkait dengan tema seminar dan workshop, juga dijelaskan saat menjawab pertanyaan para awak media, seusia forum seminar.

Dalam seminar yang diselenggarakan bersama Kemendikbud melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY itu, juga hadir utusan dari lembaga pendukung tersebut dan memberi sambutan. Selain Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang akrab disapa Gusti Moeng, hadir pula KPH Raditya Lintang Sasangka selaku Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, menyampaikan materi tentang hal-ikhwal busana adat lelaki.

Menurut Gusti Moeng, busana adat Jawa yang masih banyak dikenakan masyarakat luas khususnya di kalangan masyarakat etnik Jawa, merupakan busana yang sudah sangat lengkap dan paripurna sebagai busana yang punya ciri kepribadian budaya nasional. Tetapi tidak menutup kemungkinan, akan terjadi perubahan sesuai perkembangan zaman.

Ciri Muslimah Indonesia

Dikatakan demikian, menurut KPH Raditya Lintang Sasangka dalam menyampaikan materinya lewat over head projector, karena sudah memenuhi unsur susila (sopan), sekadhen (serasi), gambuh (sesuai) dan besus (enak dipandang dan enak di hati).

Tetapi memang, busana adat ini mungkin dipandang terlalu rumit karena komponennya lebih banyak dibanding busana keseharian yang dianggap lebih simple. Namun, sejak NKRI lahir, telah disepakati bahwa busana nasional kurang lebih seperti pemandangan atau contoh-contoh yang terdokumentasi dari peristiwa-peristiwa di Tanah Air.

Baik untuk lelaku maupun perempuan, bahkan untuk kaum muslim perempuan sekalipun seperti yang sering dikenakan istri Presiden Gus Dur, Nyonya Shinta Nuriyah Wahid atau putrinya Yeni Wahid.

forum-seminar-busana4
MENYAMPAIKAN MAKALAH : Gusti Moeng selaku Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, saat menyampaikan makalah tentang busana adat di keraton dalam seminar dan workshop tentang busana adat di KSPH Solo, tadi siang (9/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Yang sering dikenakan ibu Hj Shinta Nuriah dan putrinya mbak Yeny Wahid itu, adalah conroh busana muslimah Indonesia yang sangat khas berciri kepribadian Nusantara. Itulah ciri muslimah Indonesia,” tandasnya.

Di forum yang diikuti kalangan guru sanggar dari dalam dan luar lingkungan yayasan, Pakasa cabang dan sebagainya yang berjumlah tak lebih 60 orang sesuai protokol Covid 19 itu, Gusti Moengtidak berpanjang lebar berbicara tentang busana adat khususnya wanita.

Dimanfaatkan untuk Meluruskan

Namun forum itu lebih banyak dimanfaatkan untuk meluruskan pandangan kalangan generasi muda bahkan generasi tua, yang sudah luntur kepribadiannya terhadap pentingnya menghargai busana nasional. Karena busana itu, merupakan produk budaya bahkan peradaban, asli karya bangsa sendiri yang sudah lengkap dan paripurna dipandang dari kaidah apapun.

Pernyataan ini sekaligus untuk menyikapi dan menyambut banyaknya suara peduli dan ajakan dari kaum wanita muda secara pribadi maupun organisasi, untuk kembali mencintai dan mengenakan busana kebaya dalam  keseharian. Dia sangat menghargai dan menyambut ajakan itu yang mulai banyak dibicarakan di berbagai medsos itu, karena kebaya merupakan bagian dari busana nasional yang berciri kepribadian Nusantara.

”Kebaya busana wanita yang kita kenal, adalah karya peninggalan leluhur yang sudah melalui perubahan penyempurnaan, dan sangat dimungkinkan akan terus berubah untuk disempurnakan. Itu asli Indonesia, asli Nusantara yang menjadi ciri kaum perempuan kita”.

”Bukan produk Amerika, Jepang, Korea, China atau Arab. Ciri-ciri kita itu, antara lain yang berkebaya itu. Kalau muslim, tinggal berkerudung saja. Seperti Ibu Shinta Nuriah atau mbak Yeni Wahid itu lo,” ujar Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang prestasinya dari dalam dan luar negeri banyak disebutkan moderator di forum tersebut.

Semua Bisa Habis Dijual

Selain busana, Gusti Moeng lebih banyak berbicara soal istilah atau sebutan yang berasal dari lingkungan adat di Keraton Surakarta khususnya, tetapi dipersepsikan secara salah oleh publik secara luas. Bahkan telah membuat kesalahan besar karena menjadi produk kebijakan pemerintah, akibat dikonotasikan secara salah.

Kata, istilah atau sebutan itu adalah ”dalem”, yang sering terangkai dalam kata ”kagungandalem” yang bermaksud menunjukkan pemilik sesuatu. Menurut Gusti Moeng, kata/istilah atau sebutan ”dalem” bukan menunjuk pada pribadi, melainkan nama institusi atau lembaga.

Jadi, lanjutnya, ”kagungandalem” itu artinya milik lembaga, dalam hal ini insitusi Keraton Surakarta. Misalnya dalam kata ”kagungandalem Masjid Agung”, itu berarti Masjid Agung milik isntitusi keraton.

”Bukan milik pribadi Sinuhun atau perorangan siapapun. Sebab, pengertian dasar itu lahir bahwa keraton dengan segala isi dan aset-asetnya, adalah milik seluruh dinasti (Mataram) secara turun-tumurun”.

”Kalau (keraton) milik Sinuhun, ‘kan sudah dari dulu dijual yang jumeneng. Kalau bisa begitu, habis sudah keraton ini dan aset-asetnya. Kami-kami ini tinggal jadi penonton yang hanya bisa mlongo”.

”Kenapa hampir semua peninggalan sampai sekarang masih utuh (tidak dijual)? Karena tiap Sinuhun yang jumeneng punya prinsip, boleh menambah, tak boleh mengurangi. Jumeneng itu hanya nglungguhi klasa kang gumelar. Ora wenang handuweni. Apalagi menjual,” ujar penerima penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang (2012) yang pernah menjadi anggota DPR RI dua periode terpisah itu. (Won)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan