Rencana Pendidikan Tatap Muka, Guru Perlu Perlindungan Hukum

0
pendidikan-karanganyar

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Guru sebagai salah satu tokoh sentral dalam rencana penyelenggaraan pendidikan tatap muka di era pandemi Covid-19 seperti ini, harus mendapatkan perlindungan hukum yang pasti agar tidak menjadi tertuduh jka suatu saat penddikan menjadi klaster baru covid.

‘’Ini bukan mendoakan tapi antisipasi yang terjelek jika terjadi sesuatu terkait dimulainya sekolah tatap muka di berbagai daerah, termasuk Karanganyar yang berencana melaksanakan sekolah tatap muka mulai September mendatang,’’ kata Anna Yusnia, Ketua Bidang Bantuan Hukum dan Perlindungan Guru PGRI Karanganyar, Kamis (13/8/2020).

Baca : Ucapkan Pancasila, Lagu kebangsaan hingga Sita KTP

Di sela-sela peresmian gedung Graha PGRI Karanganyar di Jl Gatotsubroto, Pokoh Baru, Karanganyar, dia menandaskan, guru sudah capek-capek mengajar, berhati-hati menjaga protokol kesehatan, namun masih disalah-salahkan dalam kejadian tersebut, akan sangat ironis dan kejam memperlakukan guru.

Karena itu harus dari awal betul-betul dipersiapkan agar dalam hal ini tanggung jawab ada di semuanya, guru dan orang tua dalam menjaga siswa agar tetap patuh pada protokol kesehatan ketika mengikuti sekolah tatap muka itu.

Anna mengatakan, penyelenggaraan sekolah tatap muka diyakini terlaksana dengan baik sesuai protokol kesehatan saat masih terjadi proses belajar mengajar. Tempat duduk siswa sudah pasti menjaga jarak. Siswa dipastikan tidak saling bersentuhan, cuci tangan, termogun, dan lainnya.

Baca : Daurah Tahfidz Virtual, Sarana Tumbuhkan Cinta Alquran

Itu menjadi bagian guru. Tapi di luar itu sudah pasti bukan lagi guru yang mengawasi, termasuk saat pergi dan pulang  sekolah. Di luar itu tentu pengawasan ada pada diri siswa sendiri dan lingkungan termasuk orang tua.

‘’Siapa yang menjamin anak tetap menjaga jarak, tidak bergaul rapat, pakai masker, itu yang perlu. Saya yang guru SMA saja tidak berani menjamin anak-anak jaga jarak. Apalagi anak SD, TK, SMP, yang jelas lebih susah aturannya. Itu yang perlu diantisipasi agar sejak awal siswa dari rumah langsung ke sekolah, dari sekolah langsung pulang. Kalau perlu diantar,’’ kata dia.

Aris Munandar, Ketua PGRI Karanganyar menambahkan, guru harus menjalani swab sebelum sekolah tatap muka dilaksanakan. Dengan biaya pemerintah atau penanggung jawab Covid-19 di setiap daerah. Sehingga tidak memberatkan guru.

Baca : Lagi, UMS Nambah Guru Besar, Siapa Dia?

Setelah dipastikan guru negatif, selanjutnya sekolah meminta persetujuan orang tua untuk melaksanakan sekolah tatap muka. Setelah itu mengisi bahwa sekolah memiliki fasilitas cuci muka, masker untuk dibagi ke anak-anak, thermogun, tempat duduk sesuai protokol kesehatan dan lainnya.

‘’Setelah itu baru diberi rekomendasi untuk melaksanakan sekolah tatrap muka. Tanpa itu jangan ada sekolah yang mendahului mengadakan tatap muka karena tanggung jawab yang besar untuk menjaga anak-anak selama sekolah tatap muka,’’ kata Aris.

Tentang anak saat pergi dan pulang sekolah dan kemungkinan menjaga jarak, Aris mengatakan, dalam tingkatan tertentu masih mungkin, kecuali tingkatan SLTA yang agak susah. Namun mereka perlu diberi peringatan untuk jaga jarak.

Baca : Urus Adminduk di Pranggong Andong, Cukup di Balai Desa

Juga perlu dibuat shift sekolah yang memungkinkan siswa tidak bertemu dari shift pagi dengan shift berikutnya, untuk menjaga satu dan yang lain tidak malah bergaul rapat melupakan jaga jarak.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan