Belajar di Rumah Tanpa Inovasi Bisa Stres, Kenapa Ya?

0
pembelajaran-ums
FOTO DIRI : Dekan FKIP UMS Prof Dr Harun Joko Prayitno.

SOLO,suaramerdekasolo.com – Pembelajaran daring yang berkepanjangan, jika benar-benar diterapkan hingga Desember 2020, tanpa inovasi dan kreativitas bisa menyebabkan stres.

Hal itu dikemukakan Guru Besar FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Harun Joko Prayitno.

Dia menegaskan, stres dapat dialami bagi orang tua. Stres bagi anak-anak didik hingga sres bagi guru. Bahkan srres bisa meluas sampai di masyarakat. Stres bagi semuanya.

baca : Bebas Bersyarat, Rina Disambut Pejabat Karanganyar

Nah untuk menghilangkan rasa stres, tentu saja ada obat yang paling mujarab kata dia, yakni sabar total dan selalu berdoa.

Tenaga ahli pendidikan itu menambahkan, orang tua ikut stres karena di satu sisi sebagai ayah dan Ibu di rumah sekaligus pensuplei amunisi pulsa, di sisi yang lainnya orang tua harus bisa menjadi guru sekaligus menjadi tenaga pendidik dadakan bagi anak-anaknya di rumah. Orang tua tiba-tiba harus bisa menjadi guru matematika, guru bahasa Inggris, guru bahasa, sehingga sekaligus sebagai guru semua mapel. Pendek kata guru serba bisa.

Terlebih lagi, kata Prof Harun, anak-anak tambah stres lagi karena terkekang secara ruang dan sosial, harus di rumah. Sementara satu-satunya sumber belajar di rumah, orang tua juga belum semuanya siap dan mempunyai metode jitu cara mendampingi anak-anaknya belajar dirumah dengan baik.

Baca : Keraton Izinkan Pintu Alkid Dibuka untuk Berdagang, PKL Langsung Kenduri Syukuran

Hal yang sama, lanjut Dekan FKIP UMS itu, stres juga dialami oleh guru dan masyarakat luas. Guru juga stres karena naluri keguruannya harus disalurkan lewat kepiawaiannya menjadi guru di depan anak-anak dan dalam setting kelas. Masyarakat pun demikian, sebab peran masyarakat dalam pendidikan informal dan nonformal tiba-tiba bertambah.

Kompleksitas pembelajaran di rumah bertambah ketika jaringannya lelet, ketika HP atau lap top yang dimiliki tidak kompatibel atau bahkan belum punya dan kendala lainnya, termasuk kehabisan paket internet.

Dalam konteks ini, lanjut Prof Harun, maka diperlukan penguatan orang tua sebagai guru-guru di rumah, penguatan pendidikan informal dan nonformal, pendampingan orang tua dalam hal pemakaian IT standar untuk pembelajaran, homeschooling, atau semacam school visits yang media konsultatif.

Bagaimanpun, dalam konteks pandemi ini diperlukan rekayasa pembelajaran yang menggembirakan dan menyenangkan, baik dilakukan oleh guru melalui daring maupun oleh orang tua sebagai pendamping belajar di rumah ataupun dari masyarakat sebagai pengontrol sosial.

Baca : Pasca-long Weekend, Pertamina Mencatat Kenaikan Konsumsi Avtur di Jateng

“Sebab, dalam konteks ini bukan saja ilmu yang diperlukan oleh anak tetapi juga sentuhan komunikasi yang menyehatkan,” terangnya. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan