Kampung Batu Manyaran, Spektakuler dan Menyimpan Banyak Misteri, Begini Ceritanya

0
wisata-bukit-batu-manyaran-wonogiri
BUKIT BATU : Pengunjung memotret formasi bebatuan di puncak Bukit Batu di Kampung Batu, Dusun Tlogo, Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Rabu (26/8). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Kampung Batu di Dusun Tlogo, Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri menyimpan potensi wisata yang spektakuler. Kondisi geografis kampung tersebut dipenuhi oleh perbukitan dan tebing-tebing batu eksotis.

Retno Lawiyani, pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tetuko Desa Kepuhsari mengungkapkan, Kampung Batu tersebut dihidupkan setelah Kampung Wayang Desa Kepuhsari berdiri. “Dulu, rombongan wisatawan yang berkunjung ke Kampung Wayang ingin melihat alam, gunung, dan sawah,” katanya, baru-baru ini.

Rombongan wisatawan itu kemudian diajak jalan-jalan ke Dusun Tlogo. Ternyata, mereka sangat terkesan dan antusias saat berkunjung ke puncak Bukit Batu.

Baca : Perbaikan Museum Karst Wonogiri Ditarget Selesai September 2020

“Ada satu kampung yang menarik banyak bebatuan, Mereka heran karena di halaman rumah warga ada batu-batu besar. Bahkan dindingnya berhimpitan dengan tebing batu,” terangnya.

Rombongan pelajar dari Jakarta tersebut diajak menikmati matahari terbit berlatar belakang Waduk Gajahmungkur. Suasana menjadi semakin greget karena pihaknya membawa bekal berupa nasi berkat bungkus daun jati.

Mereka bersantai di salah satu puncak Bukit Batu yang dinamai Sorparang. Dari puncak tersebut, wisatawan bisa melihat tebing-tebing batu dengan kontur berlipat-lipat seperti jadah dipotong-potong.

“Makan nasi bungkus daun jati sambil menunggu matahari tebrit dan mendengarkan dongeng asal usul Kampung Batu dan Kampung Wayang,” ujarnya.

Baca : Forkopimcam Baturetno Wonogiri Sidak Pemakaian Masker

Cerita rakyat setempat menuturkan, dusun itu dinamakan Tlogo karena dahulu merupakan telaga besar yang belum dihuni manusia. Kemudian ada ritual menyumpal sumber mata air dengan kepala kambing, sehingga airnya surut dan bisa menjadi ditinggali masyarakat.

Dusun itu dahulu sebenarnya terisolasi. Anak-anak penuh perjuangan harus melewati bukit ketika bersekolah. “Orang tua harus mengantar anaknya sekolah karena khawatir ada binatang liar,” imbuhnya.

Di sisi lain, Kampung Batu banyak menyimpan peninggalan kuno yang bisa dijadikan situs. Namun masih belum banyak disentuh manusia.

Baca : Buku Berlubang Dikira Bom, Hebohkan Warga Sejati Giriwoyo

Menurut penuturan warga, ada gua di atas bukit yang dulu dipakai para dalang untuk bertapa. Bagian dalam gua cukup besar seperti rumah.

Selain itu ada aliran sungai di bawah tebing-tebing batu. Tetapi belum ada orang yang berani menyusuri. Panjang sungai di bawah bukit batu itu diperkirakan lebih dari satu kilometer. “Kalau ditelusuri mungkin banyak peninggalan-peninggalan kuno,” katanya. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan