Quo Vadis Panjat Tebing Karanganyar

panjat-tebing

OLAHRAGA panjat tebing/panjat dinding di Karanganyar sempat berjaya di pentas provinsi bahkan nasional. Keberhasilan dalam pembinaan dan pembinaan menjadikan Karanganyar sebagai barometer olahraga ekstrim tersebut.

Tidak hanya para atlet dari Solo, Sragen, Sukoharjo, Sukoharjo, Klaten, Wonogiri yang datang ke Karanganyar “ngangsu kawruh” dan berlatih di papan panjat (wall climbing) yang saat itu berada di kompleks alun-alun kabupaten. Karanganyar sering kali menjadi tuan rumah event sirkuit panjat tebing (SPT) tingkat karesidenan. Bahkan, Pengda FPTI Jawa Tengah menawarkan terlebih dulu pada Karanganyar untuk menjadi tuan rumah kejurda maupun seleksi atlet PON.

Puncak dari kejayaan olahraga panjat tebing Karanganyar adalah pada saat olahraga tersebut untuk kali pertama diperlombakan di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang Sumatera Selatan. Dimana, tiga dari enam medali emas yang direbut tim Jawa Tengah disumbangkan oleh atlet Karanganyar, yakni atas nama Nanang Muwardi (dua emas) dan Susanti Arfiah. Di multi event Porprov Jateng, dua kali Karanganyar merebut tujuh medali perak perunggu.

Keberhasilan pembinaan olahraga panjat tebing Karanganyar pada waktu itu tidak lepas dari tingginya komitmen, semangat, dan ketekukan para pengurus cabang, atlet, pelatih, dan ofisial, yang pada saat itu masih muda/para mahasiswa. Hampir tiap hari, mereka nyambangi wall climbing, satu-satunya yang ada di Karanganyar, terutama di sore hari.

Mereka tidak dibayar dan karena saking cintanya dengan olahraga tersebut. Dukungan pemerintah kabupaten melalui KONI juga sangat membantu, terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana serta pembelian peralatan. Lantas untuk biaya penyelenggaraan event dan biaya (uang saku) para atlet yang mengikuti kejuaraan, terutama di luar kota/provinsi.

Namun belakangan, prestasi olahraga panjat tebing di bumi intanpari meredup. Karanganyar gagal mendapatkan medali di Porprov terakhir, bahkan tidak ada atlet Karanganyar yang mengikuti pemusatan pelatihan daerah di Semarang. Ada beberapa sebab, kenapa prestasi olahraga panjat tebing di Karanganyar mundur.

Pertama, para pengurus, pelatih, atlet, dan ofisial yang dulu intens berlatih, melatih, dan membuat program latihan, sekarang sibuk kerja dan cari makan, waktunya untuk keluarga. Mareka mampir di depan wall atau base camp kalau kangen saja, ketemu dengan kolega. Kalau pun masih ada orang tersisa yang melatih dan mengurusi organisasi, kini tinggal sedikit saja, tak sebanyak dulu. Saya pun sebagai ketua pengcab, memaklumi hal itu.

Kedua, sarana dan prasarana di Karanganyar sudah jauh tertinggal dibanding kabupaten/kota yang lain. Contoh, biaya pembuatan wall climbing di Kota Solo senilai lebih dari Rp 2 miliar, itu pun masih didukung dengan banyaknya papan panjat di kampus-kampus, sehingga memudahkan untuk berlatih dan menggelar kompetisi. Maka tidak heran, kalau olahraga panjat tebing di Kota Solo meningkat pesat, hingga berjaya di tingkat lokal dan nasional serta mampu melahirkan atlet kaliber internasional. Sedang di Karanganyar yang kini berada di kompleks Pujasera, wall climbingnya hanya senilai Rp 75 juta. Kondisinya apa adanya dan jauh dari standart latihan dan kompetisi.

Ketiga, dukungan pemda dalam pendanaan sudah tidak seperti dulu. Pengcab FPTI Karanganyar sulit mendapatkan papan panjat yang standart latihan dan kompetisi, meski tidak harus mahal. Sementara mencari dukungan dana dari pihak ketiga, misalnya CSR, malah jauh lebih sulit.

Kini modal para pengurus cabang, pelatih, atlet, dan ofisial, hanya tinggal semangat. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana, para pelatih dan atlet masih semangat untuk beralatih dan melatih. Para pengurus, pelatih, dan ofisial juga sudi keluar masuk sekolah dan kampung kampung untuk mencari bibit-bibit baru, terutama di usia dini dan remaja.

Dengan sisa semangat yang masih tertinggal apalagi didukung penuh Pemda dan KONI, seperti sebelumnya, saya yakin, Karanganyar mampu mengejar ketertinggalan. Kita tunggu saja peran KONI yang kini tengah dilantik dan katanya akan lebih mengutamakan pembinaan prestasi ketimbang acara seremoni. Semoga.

*Vladimir Langgeng Widodo, Ketua Pengcab FPTI Karanganyar

Tinggalkan Pesan