Membangun Budaya Menyusui Sebagai Pondasi Pembangunan Berwawasan Kependudukan

Eka Puspita Sari

SEBELUM terjadinya revolusi industri di akhir abad 18, para ibu sebelumnya hanya memberikan ASI pada anak mereka meskipun beberapa diantaranya dilakukan oleh ibu susu pengganti. Lambat laun, pemberian ASI dirasa tidak mampu laksana karena banyaknya perempuan yang mulai bekerja baik sebagai buruh pabrik atau pembantu dapur umum dalam perang dunia 1 dan 2, akibatnya mereka meninggalkan anak-anak mereka dan sebagian diantaranya masih dalam usia menyusu. Sehingga, mulai bermunculan produsen-produsen susu yang bersumber dari susu sapi perah sebagai pengganti ASI yang dikenal dengan susu formula.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dewasa ini KESADARAN akan manfaat dan pentingnya pemberian ASI dan gerakan menyusui terus disosialisasikan. Bahkan, dunia pun membuat agenda kampanye berupa Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 1 – 7 Agustus. Gerakan kampanye dan sosialisasi ini pertama kali diadakan pada tahun 1992 oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA).

Pekan ASI Sedunia ini diperingati setiap tahunnya dengan tema berbeda-beda oleh lebih dari 170 negara. WABA sendiri dibentuk pada tahun 14 Februari 1991 dan bertujuan untuk membangun kembali budaya menyusui secara global sekaligus menyediakan dukungan bagi para ibu menyusui untuk aksi menyusui di mana saja.

Hubungan antara ayah dengan menyusui

Siapa bilang ayah tidak berperan dalam menyusui? Sejatinya, Ayah bahkan memiliki peranan penting sejak dalam persiapan menyusui hingga kegiatan menyusui itu sendiri. Ibu menyusui amat memerlukan dukungan dalam berbagai hal dari suami dan keluarga. Menurut Kemenkes RI sendiri, ada 1 dari 5 orang ibu menyusui memutuskan berhenti menyusui karena kurangnya dukungan dari keluarga. Sehingga disarankan bagi para orang tua milenial untuk lebih mencari tahu tentang pentingnya ASI dan mendapatkan dukungan dari kelompok atau komunitas yang mendukung pemberian ASI.
Di Indonesia sendiri terdapat komunitas penggiat ASI yang beberapa kali mengadakan pertemuan sesama anggotanya.

Selanjutnya, kelompok kegiatan berbasis masyarakat seperti Posyandu atau Bina Keluarga Balita (BKB) yang tujuannya untuk memantau tumbuh kembang bayi dan balita. Kelompok-kelompok tersebut selain memberikan dukungan dalam pemberian ASI kepada orang tua, memantau tumbuh kembang bayi setiap bulannya, juga meningkatkan kapasitas pengetahuan dari materi-materi penyuluhan mengenai kesehatan ibu dan anak yang dibawakan oleh penyuluh maupun kader.

ibu-menyusui
FOTO ILUSTRASI

Menyusui dan Efeknya Bagi Kependudukan

Dalam UU No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga pada pasal 23 ayat 1 poin (h) disebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah wajib meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan kontrasepsi dengan cara melakukan promosi pentingnya air susu ibu serta menyusui secara ekslusif untuk mencegah kehamilan 6 (enam) bulan pasca kelahiran, meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak. Hal ini tentu menjadi motivasi bagi para petugas kesehatan, penyuluh kesehatan, dan juga penyuluh keluarga berencana untuk memberikan materi KIE mengenai pentingnya pemberian ASI bagi ibu menyusui. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya mengenai manfaat menyusui, maka efek jangka panjang tentunya mengenai pembangunan manusia.

Pembangunan dilakukan oleh dan untuk penduduk. Salah satu manfaat menyusui menjadikan bayi-bayi lebih sehat dan cerdas, tentunya mereka kelak akan tumbuh sebagai manusia-manusia berkualitas. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas akan mempengaruhi pembangunan suatu bangsa. Sehingga fokus utama pembangunan tidak hanya infrastruktur semata namun juga kualitas sumber daya manusia. Inilah yang disebut dengan pembangunan berwawasan kependudukan. Jika sejak lahir anak sudah diberikan makanan terbaik, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan melakukan hal-hal yang terbaik bagi hidupnya, keluarganya, dan bahkan bangsanya.

Selain itu, manfaat kesehatan yang didapatkan baik bagi ibu maupun anak dapat meningkatkan produktifitas bagi keduanya. Seperti manfaat kontrasepsi alami yang terjadi pada tubuh ibu jika ia menyusui anaknya secara esklusif dan belum mendapatkan menstruasi setelah bersalin. Meskipun kekurangannya hanya berlaku hingga bayi berumur 6 bulan, setelahnya ibu harus mencari alat kontrasepsi lain yang sesuai dengan dirinya.

Akan tetapi hal ini efektif untuk membuat ibu memberikan jarak untuk dirinya memulihkan diri pasca persalinan, memberi waktu bagi ibu dan bayi dalam membentuk ikatan sehingga terbentuk karakter yang baik bagi anaknya, serta lebih efektif dalam mendorong ibu melanjutkan menyusui hingga 2 tahun atau lebih. Selanjutnya, ibu akan lebih berdaya dalam membina keluarganya dan anak dapat menemukan potensi yang ada kelak dikemudian hari.

Kependudukan dan Lingkungan

Pertumbuhan penduduk yang tinggi seringkali tidak berimbang dengan ketersediaan sumber daya alam (SDA) akibatnya, banyak kerusakan-kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia hanya agar mereka tetap bereksistensi. Pekan ASI Sedunia baru saja berlangsung pada tanggal 1-7 Agustus 2020 dengan mengangkat tema isu lingkungan. Sudah sangat jelas diketahui, bahwa menyusui merupakan cara tidak langsung untuk melestarikan bumi dan lingkungan.

Hal ini digaungkan tentu saja dikarenakan dampak pembuatan susu formula yang memakan banyak limbah kaleng, penggunaan listrik yang berlebih, penggunaan detergen dalam proses pencucian botol, serta penggunaan air bersih dalam jumlah tidak sedikit. Jika hal itu terus terjadi, tidak menutup kemungkinan di masa yang akan datang kita akan berhadapan dengan krisis air bersih, masalah pencemaran lingkungan akibat bahan-bahan kimia, dan dalam bentuk jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Sehingga manusia akan kesulitan dalam melakukan kegiatan yang dapat membangun potensi diri dan lingkungannya.

Untuk memperlambat kerusakan lingkungan tersebut, maka kembali kepada kepada “yang seharusnya” perlu dilakukan. Salah satunya adalah dengan gerakan menyusui. Dengan menyusui, maka akan mengurangi produksi sampah kaleng, menghemat ribuan liter air, mengurangi penggunaan listrik, mengurangi bahan kimia lainnya, serta memperlambat periode haid pada ibu yang berujung dengan tertundanya kehamilan dan pertambahan jumlah penduduk.

Bagaimana membangun budaya menyusui?

Budaya menyusui sejatinya sama tua dan abadi nya dengan sejarah kejadian manusia. Manusia yang ada saat ini tidak terlepas dari budaya menyusui di masa lampau sebagai akibat salah satu fungsi kehidupan manusia, yaitu bereproduksi. Proses lactogenesis (terciptanya fungsi menyusu) telah berlangsung sejak seorang wanita dinyatakan hamil dan akan berfungsi penuh setelah wanita tersebut melahirkan.
Satu hal yang perlu dipahami, bahwa manusia tidak langsung bisa menyusu secara otomatis, melainkan harus belajar terlebih dahulu. Belajar yang dimaksud adalah interaksi antara ibu dan bayi, sehingga dapat tercipta ritme pola menyusui dan menyusu itu sendiri.

Sayangnya, dalam proses tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor yang mempengaruhi. Untuk itu, pemahaman menyusui penting disampaikan demi terciptanya budaya menyusui yang lebih baik.

ibu-menyusui

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun budaya menyusui, antara lain :

• Pedoman kehidupan manusia yang utama bersumber dari kitab suci agamanya masing-masing. Termasuk, pedoman pemberian ASI yang telah disinggung dalam setiap kitab suci. Sehingga, perlu pemahaman awal bahwa ‘memberikan ASI merupakan salah satu ibadah sebagai wujud ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa’.

• Kemudian, pahamilah bahwa memberikan ASI merupakan hak prerogatif sang anak. Jika pemahaman akan hak anak telah kita ketahui, maka memberikan ASI merupakan kewajiban orang tua (ayah dan ibu) yang harus (dan bisa jadi mudah) dilaksanakan.

• Jadilah pendukung bukan pencibir. Jika ada ibu menyusui, maka berikan dukungan dengan mendorong untuk terus menyusui bayinya. Banyak cara dapat dilakukan, misalnya ketika di kantor, dapat disediakan ruang menyusui untuk memompa ASI dan mengingatkan ibu agar memompa ASI-nya secara berkala. Ketika berada di ruang publik, bisa memberikan privasi ibu untuk leluasa menyusui bayinya. Atau memberikan informasi akurat tentang manfaat menyusui kepada ibu dengan bayi baru lahir. Dan bila perlu berikan dukungan pada orang tua yang memberikan ASI dengan ASI perah atau ASI donor dari ibu susu pengganti.

• Menjauh dari orang-orang negatif yang berusaha menjauhkan usaha ibu dalam menyusui.

Mari bangun budaya menyusui sejak saat ini, untuk Indonesia lebih baik.

Oleh : Eka Puspita Sari, S.K.M, Konselor Laktasi, Penyuluh KB Kabupaten Sragen

Tinggalkan Pesan