Makna Hubungan Sang Pencipta Umat Manusia dan Alam Pada Kostum Gibran-Teguh

gibran-teguh1

*Lurik, Iket, dan Batik Sido Mukti yang Dipakai Gibran-Teguh

SOLO,suaramerdekasolo.com – Pasangan Gibran Rakabuming – Teguh Prakosa baru saja mendaftarkan diri sebagai calon wali kota – wakil wali kota di KPU Kota Surakarta, Jumat (4/8/2020).

Pasangan dari PDI Perjuangan Kota Surakarta ini berangkat ke kantor DPC PDI Perjuangan Solo dengan mengayuh sepeda onthel diiiringi para pendukung, relawan dan petinggi partai politik Solo, serta kader PDI Perjuangan.

Namun dari sekian hal itu, patut dicermati mengenai seragam/kostum yang dipakai duet Gibran-Teguh saat mendaftarkan diri ke penyelenggara pemilu itu.

Gibran-Teguh nampak serasi memakai baju lurik, pakai iket dan jarik.

Dan dari penelusuran suaramerdekasolo.com, kostum ini ternyata memiliki.makna filosofi yang dalam. Kental dengan budaya Jawa, khususnya Kita Solo, tempat keduanya akan bertarung menjdi orang nomor satu dan dua dalam Pilwakot mendatang.

Menurut penuturan YF Sukasno, salah satu anggota tim pemenangan Gibran-Teguh, pakaian yang dipakai Gibran-Teguh ini punya makna yang mendalam.

“Gibran Teguh mendaftar ke KPU berpakaian ala Ki Gede Sala,” terang YF Sukasno,Sabtu (5/8/2020).

Perlu diketahui, bagi warga Kota Surakarta bukanlah hal asing dengan nama Ki Gede Sala. Beliau tokoh yang bermukim di desa Sala saat itu sebelum dibangunnya Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Ki Gede Sala sederhana tapi sangat bijak juga kharismatik karena di suyuti kawulo dan seluruh pendereknya,” terang Sukasno.

Kesederhanaan Ki Gede Sala juga dalam hal berpakaian semuanya penuh makna yang mencerminkan hubungan Sang Pencipta Umat Manusia dan Alam.

“Dan itulah yang dipilih Pasangan calon Walikota Mas Gibran dan calon Wawali Pak Teguh Prakosa saat berangkat ke KPU. Keduanya memakai iket dengan motif Batik Sido mukti , memakai beskab landung Lurik memakai jarik motif batik Sido Luhur dan memakai alas kaki srandal trumpah.”

“Semua ada makna filosofiya, iket Sido mukti melambangkan Jangan Lupa akan Sang Pencipta maka akan terwujut semua gegayuhan atau keinginan yang baik.
Beskab landung motif Lurik ,itu pakaian rakyat jaman dulu Lurik, artinya Lurus dan iklas dalam pengabdian. Kalau Jarik motif Sido Luhur bermakna tercapainya keinginan Luhur berbudi bowo leksono ,sebagai pemimpin harus bisa mewujutkan rasa ayem tentrem bagi semuanya.”

gibran-teguh2

Adapun Srandal trumpah, menurut wakil rakyat di DPRD Kota Surakarta itu, biasanya zaman dulu terbuat dari kulit kerbau yang tipis tapi kuat.

“Artinya sebagai pemimpin harus mampu dan kuat menjalankan mandat peraturan .
Apabila disimpulkan , Sebagai Pemimpin Jangan Pernah melupakan TUHAN sang pencipta dan Jangan Pernah melupakan rakyat,” katanya.

Sukasno yang juga Wakil Ketua Team Pemenngan Gibran-Teguh mengungkapkan, kostum yang dipakai duo ini memang disiapkan secara khusus. Dia sendiri yang menyiapkan pakaian dan acara prosesi pemberangkatan Calon Wali Kota dan Wawali Jumat lalu.(Budi Santoso)

Editor : Sri Hartanto

Tinggalkan Pesan