Wilujengan Adeging Surakarta 17 Sura Digelar LDA di Pagelaran

0
peringatan-berdirinya-keraton
MEMIMPIN UPACARA : Upacara doa wilujengan nagari peringatan berdirinya Keraton Mataram Surakarta 17 Sura yang digelar di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Sabtu siang (5/9) lalu, dipimpin oleh anak ke-17 dari 35 anak Sinuhun PB XII yang terlahir dari ibu KR Ageng Pradapaningrum (bukan KRay-Red) yang bernama GKR Wandansari Koes Moertiyah. Sejak 2004, LDA dan semua aktivitasnya dipimpin wanita yang akrab disapa Gusti Moeng itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Dijaga Ratusan Polisi, Tapi ”Diganggu” Oknum dari Sasana Putra

SOLO,suaramerdekasolo.com – Kenduri dan doa wilujengan nagari untuk memperingati genap 284 tahun (kalender Jawa), atau 275 tahun (kalender Masehi) adeging ”nagari” (berdirinya ”negara”) Keraton Mataram Surakarta Hadiningrat, diperingati Lembaga Dewan Adat (LDA) secara sederhana di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Sabtu siang (5/9). Doa yang disertai tahlil dan dzikir yang dipimpin abdidalem ulama KRT Pujo Hartoyodipuro itu, diikuti 350-an kerabat dari berbagai elemen dan hanya berlangsung 90-an menit tetapi khidmat.

Namun, tinggal beberapa menit menjelang berakhir kira-kira pukul 12.30, tiba-tiba datang seorang oknum abdidalem yang mengaku bernama Kangjeng Pangeran Arya (KPA) ”W” dari ”markas” Sasana Putra. Kedatangannya lalu disambut KPH Edy Wirabumi dan diajak bergabung dalam doa, dzikir dan tahlil serta bershalawat Sultanagungan serta bersyahadat Quresh.

Namun ternyata, kedatangan itu bertujuan mempertanyakan kenapa acara itu digelar di Pagelaran Sasana Sumewa yang menurutnya ”tanpa seizin” Sinuhun PB XIII. Bahkan menurutnya, penggunaan tempat itu ”dianggap melanggar” karena mencopot sebagian sketsel pembatas yang bisa dibongkar-pasang secara knock-down, untuk akses keluar-masuk peserta doa wilujengan nagari tersebut.

Karena dianggap berpotensi mengganggu khidmatnya doa wilujengan, oknum yang terlibat dalam penyegelan sejumlah tempat di kawasan keraton dengan mengatasnamakan Sinuhun dan Satpol PP Pemkot itu, dibawa menjauh dari upacara. Sambutan KPH Edy selaku salah seorang penyelenggara sekaligus among tamu, tampak diabaikan, malah kemudian menjadi adu mulut makin panas ketika para wayah dan buyutdalem Sinuhun PB XII berdatangan mendekat.

peringatan-berdirinya-keraton2
BANYAK DITANYAKAN : KPH Edy Wirabhumi selaku salah seorang penyelenggara, menjelaskan soal acara doa wilujengan, tetapi juga menjawab insiden yang banyak ditanyakan kalangan awak media. Sebagai salah seorang among tamu, dia yang pertama ”yang menyambut” kedatangan oknum abdidalem dari ”markas” Sasana Putra itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sepanjang insiden terjadi, ratusan aparat kepolisian dari Polsek Pasarkliwon dan Polresta dan unsur Babinsa serta beberapa personel Koramil Pasarkliwon ikut mengawasi dari jauh dan dekat. Adu-mulut tak berlangsung lama, karena ada seorang rekan KPA ”W” yang menariknya membawa pergi, sementara semua unsur aparat juga kembali berjaga-jaga dari jauh.

Upacara adatnyapun segera berakhir, setelah ditutup dengan sambutan Gusti Moeng selaku Ketua LDA. Seperti diketahui, nama lembaga LDA belakangan semakin mencuat karena hampir semua proses hukum yang berjalan mulai dari Pengadilan Negeri (PN) Surakarta hingga Mahkamah Agung (MA), atas konflik internal keluarga besar putra/putri Sinuhun PB XII sejak 2004, secara tidak langsung menunjuk sekaligus menjadi bentuk pengakuan secara hukum terhadap LDA.

Lembaga itulah yang belakangan makin kelihatan berperan di tingkat daerah, nasional maupun internasional, baik sebagai legal standing maupun legal formal yang memiliki kewenangan secara hukum untuk mengurus Keraton Surakarta beserta aset-asetnya. Maka dalam sambutan Pengageng Sasana Wilapa yang bernama lengkap GKR Wandansari Koes Moertiyah itu, juga disebut-sebut bahwa LDA akan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang selama ini memfitnah Sinuhun PB XII dan Keraton Surakarta melalui berbagai forum yang diadakan.

”Menapa panjenengan saget nampi menawi Sinuhun PB XII lan keraton dipun fitnah, dipun tuding pro-Belanda, dipun tuding antek Berlada?,” ujar sepenggal sambutan Gusti Moeng bernada bertanya yang ditujukan semua yang hadir, lalu dijawab akalamasi ”Mboten…” (asget nampi-Red).

Sambutan itu lumayan tandas dan menunjuk poin-poin penting eksistensi Keraton Surakarta dalam hubungannya dengan pemerintah, yang tujuannya agar semakin dipahami kerabat peradaban Mataram/Jawa secara luas. Acara berakhir, setelah cepuk plastik berisi menu jenang Suran yang gurih simbol pemulihan kekuatan setelah Keraton Mataram Surakarta berdiri 17 Sura 1745 (tahun Masehi) itu dibagiikan kepada semua peserta doa wilujengan, tahlil dan dzikir. (won)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan