BEM UMS Siap Kawal Pilkada 2020, Perangi Hoaks dan Politik Identitas

0
bem-ums-amankan-pilkada
DARING: Direktur Setara Institut Halili Hasan memberikan materi dalam diskusi daring bertajuk "Strategi-Partisipas Mahasiswa Mengawal Pilkada 2020 Berkualitas dan Damai" yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) secara daring. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)

SOLO suaramerdekasolo.com – Menjelang Pilkada 2020,  mahasiswa wajib untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas demokrasi. Dalam hal ini, mahasiswa harus berfungsi sebagai kontrol terhadap kekuasaan agar tidak menyimpang.

Hal itu mengemuka dalam diskusi daring bertajuk “Strategi-Partisipas Mahasiswa Mengawal Pilkada 2020 Berkualitas dan Damai” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah (UMS).

Baca : Dosen Hukum Tata Negara UIN Yogyakarta : Kampus Sentral Pengawasan Pilkada

Dialog virtual melalui platform Zoom Meeting ini dihelat pada Senin, (7/9/2020). Sebanyak 150 peserta yang ikut bergabung berasal dari mahasiswa, aktivis kampus, hingga akademisi dari berbagai kampus.

“Peran mahasiswa menjadi kian urgen mengingat lemahnya kontrol pengawasan di tingkat elite,” kata salah seorang pembicara, Direktur Setara Institut Halili Hasan dalam paparannya. 

 Lebih lanjut ia mengungkapkan, selain untuk mengontrol kekuasaan, mahasiswa juga harus menjadi soliditas dan kohesi sosial masyarakat. Sebab dalam kontestasi elektoral, baik Pemilu maupun Pilkada yang paling berbahaya ialah politisasi agama karena bersifat destruktif dan merusak kebhinekaan yang telah menjadi pondasi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca : Mas Gibran-Teguh Mampir ke Jajar, Warga Manfaatkan Momentum Berselfie Ria

Agama dan identitas yang melekat pada individu biasanya menjadi faktor penting untuk mendorong dan memotivasi seseorang. Namun jika hal ini digunakan saat kontestasi politik, akan memengaruhi preferensi pemilih.

“Alih-alih mendorong terciptanya demokrasi berkualitas, politisasi agama justru memperburuk ko-eksistensi damai,” tegasnya.

Presiden BEM UMS Fakultas Hukum, Aditya Ramadhan, menjelaskan dalam sambutannya, mahasiswa mesti turun tangan dengan elemen lain untuk  berkontribusi mengawal jalanannya Pilkada 2020 berkualitas.

Baca : Hadiah HUT RI, Kreasikan Audio Video Seniman Solo Bangkit untuk Indonesia

Menurutnya, fungsi kontrol sosial mahasiswa mesti digalakkan untuk mengantisipasi praktik buruk dalam Pilkada 2020.Setidaknya, kata Aditya, menguatnya sentimen yang dibungkus dalam praktik politik identitas serta massifnya informasi bohong dan adu-domba mestinya menjadi perhatian serius semua kalangan, termasuk mahasiswa.(Evie K)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan