Pilbup Sragen, Pemilih Diberi Sarung Tangan Sekali Pakai

0
pelaksanaan-pilgub-sragen
JAGA JARAK: Menjaga jarak aman diterapkan saat pelaksanaan rakor dan sosialisasi pelaksanaan Pilbup 2020 Sragen, yang digelar di Aula Sukowati Kompleks Setda Srage, Kamis (17/9/2020). (suaramerdekasolo.com/Basuni H)

*Pilbup Jangan Jadi Kluster Covid 19

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Selain berlangsung dengan aman dan lancar, pelaksanaan Pemilihan Bupati dan wakil Bupati (Pilbup) 2020 Sragen diharapkan tidak menjadi kluster penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid 2019). Pasalnya, sepanjang prose pelaksanaan Pilbup 2020 menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Salah satunya adalah adanya pembatasan jumlah kehadiran peserta pertemuan rapat umum di tempat tertutup dan terbuka. Juga adanya pengecekan suhu badan para pemilih saat ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Serta pemakaian sarung tangan sekali pakai dan harus dibuang saat pemungutan suara pada 9 Desember mendatang.

Baca : Tak Kerahkan Massa, Timses Bajo Taati Perwali Soal Protokol Kesehatan

Hal ini dikemukakan Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyatno, seusai memimpin rapat koordinasi dan sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan Pencegahan Covid 19 Dalam Pelaksanaan Pilbup 2020 Sragen, yang digelar di Aula Sukowati kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Kamis (17/9). Rakor diikuti berbagai stake holder atau pemangku kepentingan, seperti dari Pemkab Sragen, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Kodim 0725/Sragen, Polres Sragen, Batalyon Infanteri (Yonif) 408/Suhbrastha dan lainnya.

“Selain harapan agar berlangsung aman dan lancar, pelaksanaan Pilbup 2020 juga diharapkan tidak menjadi kluster penyebaran Covid 2019 di Sragen, karena itu akan diterapkan protokol kesehatan yang ketat dalam pelaksanaannya,” kata Dedy.

Proses itu sudah diterapkan saat proses pendaftaran bakal calon pasangan, saat penetapan pasangan calon dan kampanye hingga saat pemungutan suara dan setelahnya. Saat kampanye misalnya, penerapan itu dilakukan saat pertemuan atau rapat umum. Dimana bila pertemuan dilakukan di ruang tertutup, maksimal yang hadir dibatasi 50 orang dan di ruang terbuka dibatasi maksimal 100 orang yang diutamakan digelar secara daring.

Baca : Masyarakat Mengeluh Terganggu, 110 Motor Ngebronk Digaruk

Begitu pula saat proses pencoblosan, dimana para pemilih yang datang harus dicek suhu tubuhnya terlebih dahulu, cuci tangan sebelum memberikan hak suaranya. Sebelum mencoblos mereka harus mengenakan sarung tangan sekali pakai, yang harus dibuang di tempat sampah medis, ketika sudah memberikan hak suaranya.

“Paku untuk mencoblos memang dipakai bersama, tapi pemilih memakai sarung tangan saat mencoblos, hal ini agar semuanya aman,” tandas Wabup. Begitu pula seusai mencoblos, para pemilih akan ditetesi atau dioleskan tinta memakai alat semacam cutton buds sekali pakai.

Wabup mengungkapkan, pada Pilbup 2020 ini target pemilih 77,5 persen dan penting bagi KPU dan Bawaslu melakukan sosialisasi, agar target itu bisa tercapai, bahkan terlampaui.

“Penting bagi KPU dan Bawaslu untuk melakukan sosialisasi masif kepada masyarakat agar mereka merasa aman dan yakin datang ke TPS tanpa takut tertular Covid 19,” tegas Dedy.

Ketua Bawaslu Dwi Budhi Prasetya mengatakan, pada rakor tersebut mereka memaparkan tahapan-tahapan yang memiliki potensi terjadi kerumunan dan penyebaran Covid 19. Tahapan terdekat adalah penetapan pasangan calon dan pengambilan nomor urut serta dilanjutkan kampanye.

Dalam kampanye, ada pembatasan jumlah mereka yang hadir saat rapat umum, baik yang digelar di ruang terbuka atau tertutup. Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah proses distribusi logistik yang juga memiliki potensi kerumunan, mulai dari saat pencetakan hingga penyimpanan dan saat penyortiran surat suara. Hal-hal seperti ini perlua diantisipasi oleh KPU dan pemangku kepentingan lainnya.

Baca : Awas, Sanksi Denda Menanti

“Kami sudah mengantisipasi semua proses yang menimbulkan tahapan-tahapan yang berpotensi kerumunan. Protokol kesehatan harus diterapkan, agar semuanya aman di masa pandemi seperti sekarang ini,” kata Budhi.

Dia juga mengemukakan, bila para pemilih juga bakal diberi sarung tangan sekali pakai. Dimana bila sudah selesai mencoblos, sarung tangan itu harus dibuang. Penerapan protokol kesehatan yang ketat itu untuk untuk memberikan jaminan kepada masyarakat, agar mereka aman dan nyaman saat proses pemungutan suara. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan