Pakaian Jawa Menempel di Tubuh Gibran-Teguh Saat Hadiri Kampanye Damai, Ternyata Arahan Langsung Ketua DPC PDI Perjuangan

0
baju-lurik-gibran-teguh2
FOTO BERSAMA : Cawali Cawawali Gibran Rakabuming - Teguh Prakosa berfoto bersama sebelum naik mobil menuju lokasi kampanye damai di The Sunan Hotel Solo. (suaramerdekasolo.com/Dok)

PADA Sabtu, 26 septmber 2020 bertempat di The Sunan Hotel Solo, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengadakan penandatangan Pakta Integritas Pemilu Damai yang juga sebagai pertanda dimulainya masa kampanye Pilwakot Solo 26 – 6 Desember.

Mereka yang diundang oleh KPU adalah paslon dan team pemenangan. Pasangan Gibran Rakabiming dan Teguh Prakosa sebagai cawali dan cawawali mendapatkan undangan. Namun, karena ketua Team Pemenangan Gibran-Teguh yakni Putut Gunawan ada acara lain. Maka posisinya digantikan Her Suprabu diberi mandat untuk mewakili Ketua Team Pemenangan untuk menghantar Giban – Teguh.

Pukul 12.30 WIB rombongan nomor urut 1 ini berangkat dari kantor DPC PDI Perjuangan jl Hasanudin. Istimewanya, Gibran sebagai calon wali kota yang mengemudi, sementara Teguh Prakosa dan Her Supabro mendampingi.

Rupa-rupanya setting semacam itu sesuai pesan Ketua DPC PDI Perjuangan FX Hadi Rudyatmo bahwa semua tahapan Pilwakit harus patuh dan taat pada protokol kesehatan. Sehingga rombongan yang berangkat hanya bertiga.

Menariknya lagi, atas arahan Ketua DPC, paslon dan ketua team pemenangan supaya memakai pakaian Jawa, yaitu Iket motif Sidoluhur, baju beskab lurik Tuluh Watu, Jarik motif Ceplok seling Kawung, sendal trumpah lulang kebo. Khusus pakaian ketua team pemenangan, mengenakan Iket Gadung Melati, beskab lurik Tuluh Watu, dan Jarik motif WAHYU TUMURUN.

“Semua pakaian yang dikenakan oleh Mas Gibran maupun Pak Teguh ada nilai filosofi yg dalam dan penuh makna,” terang anggota Tim Pemenangan Gibran Teguh, Yf Suksno.

Dijelaskan, ikat motif batik Sido Luhur di kandung maksud semua keinginan cita-cita yang luhur harus selalu ingat, pada TUHAN YANG MAHA KUASA.

Baju beskab lurik motif Tuluh Watu artinya batu yang bersinar kuat, pemakai baju lurik motif Tuluh Watu zaman dulu adalah yang yang sangat dihormati disegani, perkasa dan berwibawa.

“Jarik motif Batik Ceplok seling Kawung, ini motif yang sangat tua zaman dulu motif ini dipakai oleh tokoh yang disegani karena mampu menjaga keamanan dan keseimbangan di masyarakat
Pamakai motif Ceplok seling Kawung adalah pribadi yang sangat Kuat perkasa dan Berwibawa,” terang Sukasno.

baju-lurik-gibran-teguh1
NAIK MOBIL : Cawali Cawawali Gibran Rakabuming – Teguh Prakosa naik mobil bersama menuju lokasi kampanye damai di The Sunan Hotel Solo. (suaramerdekasolo.com/Dok)

Sendal trumpah lulang kebo kuat sekali untuk berjalan, artinya Mas Gibran dan Pak Teguh akan melaksanakan tugas sesuai peraturan dan kometmen terhadap rakyat sangat kuatnya .

“Itulah dari sisi filosofi apa yang dipakai Mas Gibran dan Pak Teguh sangat dalam Maknanya,” terang Sukasno yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta ini.

Wahyu Temurun

Sukasno yang juga politisi senior ini menambahkan, hal yang tidak kalah menarik adalah Pakaian yang dikenakan Ketua Team Pemenangan yang diwakili Her Suprabu.

Mengenakan Iket Gadung Melati artinya menyebarkan bau mewangi ke segala penjuru.
Lalu memakai Baju beskab Lurik Tuluh Watu, artinya Berwibawa, kuat perkasa dan disegani.

Sama dengan yang dipakai Gibran atau Teguh, dikandung maksud bahwa gerak team pemenangan itu menterjemahkan keinginan, berdoa yang dituangkan dalam Visi Misi.

“Maka Baju Lurik nya sama Tuluh Watu.”

Adapun jarik motif Batik Wahyu Tumurun, intinya seperti taman bunga yang beraneka warna dan mewangi sangat indah sekali. Bunga yang beraneka warna sangat indah itu dari surga itulah makna batik Wahyu Tumurun.

“Pada saat penandatanganan Pakta integritas dan di mulainya masa Kampanye, dan Tumurunnya Wahyu itu sudah di pegang oleh Ketua Team Pemenangan (motif batik nya WAHYU TUMURUN),” pungkas Sukasno. (Budi Santoso)

Editor : Sri Hartanto

Tinggalkan Pesan