Ada Proses Politik Sebelum Calon Tunggal di Pilbup Sragen

0
kotak-kosong-pibup-sragen
AWASI DEKLARASI: Petugas Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sragen berada di lokasi Deklarasi Dukung Kotak Kosong, saat acara tersebut digelar Rabu (14/10) lalu. (sms.com/bas)

SRAGEN,sms.com – Meski merupakan sebuah hak, namun mereka yang mendukung kotak kosong dinilai sebagai orang yang tidak mengerti dan tidak memiliki kemampuan berkompetisi. Pasalnya, bila di Sragen kemudian terjadi calon tunggal, itu juga sudah didahului proses kompetisi di partai politik (parpol). Dimana parpol tidak akan mencalonkan sembarangan orang di ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), apalagi orang yang tidak mememiliki kemampuan dan malah akan merugikan masyarakat Sragen.

Hal ini diungkapan tokoh masyarakat Sragen Untung Wiyono, tatkala ditemui, menanggapi dinamika politik yang terjadi di Bumi Sukowati. Saat ini ada gerakan dukung Kotak Kosong dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) 2020. “Saya yakin masyarakat Sragen sudah pintar, mengerti dan paham. Dasarnya apa memilih kotak kosong, apalagi kalau sudah ada pemimpin yang baik?”.

Mantan Bupati Sragen dua periode itu mengemukakan, bila di Sragen terjadi kotak kosong, tidak lepas dari parpol yang menentukan. Parpol juga tidak mau kalau yang dicalonkan kalah, apalagi politik itu adalah sebuah komitmen dan politik sangat dinamis.

Dia juga membantah bila di Sragen terjadi politik dinasti. Pasalnya, selepas dia tidak lagi menjabat Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Yuni) anaknya kemudian maju mencalonkan diri tetapi kemudian kalah pada 2011. Lalu anaknya maju lagi di Pilbup 2015 dan menang, serta kemudian maju lagi pada Pilbup 2020. Kalau Yuni maju lagi, itu adalah hak dia.

Menurut Bupati Sragen dua periode itu, mereka yang bicara kalau di Sragen terjadi politik dinasti itu apriori latah berbicara saja. Sebab kalau dinasti, pergantian pemimpin hanya sekedar meneken dan melantik putra mahkota. Tetapi yang terjadi di Sragen, untuk menjadi pemimpin daerah atau bupati harus melewati sebuah proses demokrasi dan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Sehingga bagaimana bisa dibilang Sragen politik dinasti kalau terjadi proses demokrasi sesuai undang-undang.

“Apalagi sudah menjadi cita-cita dan prinsip dalam keluarga saya, bila sebuah jabatan itu sebagai prasarana untuk ibadah dan bukan menjadikan jabatan sebagai sarana untuk gagah-gagahan atau ugal-ugalan,” tandasnya.

Selain itu, Indonesia ini perlu pemimpin yang baik, termasuk di daaerah. Dia juga melarang anak-anaknya yang ingin jadi pemimpin tetapi hanya memikirkan materi saja.

“Kalau anak-anak saya ingin jadi pemimpin tetapi hanya memikirkan uang saja, saya pasti melarang. Saya ajari saja menjadi pedagang untuk mencari uang, halal. Kalau jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik,” tegasnya.

Bahkan dia mengaku memberikan subsidi kepada Yuni dan Untung Wibowo Sukowati (Bowo), dua anaknya yang terjun ke dunia politik. Hal itu dilakukan agar mereka bisa menjadi pemimpin yang baik dan membawa manfaat untuk masyarakat Sragen, serta tidak memikirkan materi. Dia juga yakin bahwa rakyat Sragen sudah pintar dan tidak bodoh menyikapi dinamika politik yang terjadi. Sudah banyak yang telah dilakukan oleh Bupati Yuni selama masa kepemimpinannya, meski sebagai seorang manusia pasti masih ada hal-hal yang masih kurang. “Kalau masih ada yang kecewa, itu wajar-wajar saja,” katanya.

Rus Utaryono selaku inisiator Dukung Kotak Kosong mengatakan, dalam pertemuannya dengan para aktifis di Sragen, mereka menyampaikan informasi bila tidak ada kompetitor di ajang Pilbup 2020 Sragen. Padahal aspirasi yang mereka dengar, banyak masyarakat yang bertanya bagaimana bila mereka memilih kotak kosong. Maksudnya apakah memilih kotak kosong itu syah dan apakah dihitung dan bila kotak kosong menang, yang terjadi kemudian seperti apa.

“Karena itu kami beserta rekan-rekan aktifis memformulasikan itu menjadi sebuah gerakan, yang juga bagian dari eduksi ke masyarakat, bila memilih kotak kosong adalah pilihan yang syah, legal dan tidak melanggar hukum. Pilihan kotak kosong itu berbeda dengan golput,” katanya. (bas)

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan