Maggot, Solusi Kurangi Sampah Organik

0
budidaya-maggot-polanharjo-klaten
LARVA LALAT : Akifis peduli lingkungan dari berbagai komunitas mengikuti sosialisasi budidaya maggot di RM Lumpang Tjokro, di Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Kamis (22/10/2020). (sms.com/mer)

KLATEN,sms.com – Sebanyak 80 peternak sudah membudidayakan maggot atau larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) untuk mengatasi banyaknya sampah organik. Saat ini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) sedang mengembangkan maggot untuk mengatasi sampah pasar.

‘’Di Klaten kami sudah punya 130 aktifis yang ada di grup, namun belum 100 persen berkegiatan, tapi mereka semangat. Yang sudah berkegiatan ada 80-an peternak. Yang paling besar bisa menyelesaikan sampah 4-6 kuintal,’’ kata Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLHK Klaten, Dwi Maryono.

Hal itu diungkapkan dalam acara Sosialisasi

Budidaya Maggot, Solusi Alternatif Pengurangan Sampah bagi Komunitas Peduli Sungai dan Taman Sungai di Lumpang Tjokro, Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Kamis (22/10). Acara diikuti puluhan aktifis dari perwakilan komunitas.

Dalam acara yang diselenggarakan DLHK bersama Sekolah Sungai Klaten (SSK) itu hadir 3 nara sumber yakni Joko Yulistanto dari Joho Prambanan, Jumar Santoso dan Danang Heri Subiyantoro yang sudah merintis budidaya maggot untuk pengurangan sampah, pupuk tanaman dan pakan ikan.

‘’Kami sedang melakukan pendataan seberapa besar sampah yang bisa dikurangi berkat budidaya maggot. Target kami akhir tahun 2020 kami sudah punya data valid. Pendataan melibatkan fasilitator bisa selesai, nantinya kami bisa memberikan fasilitasi dan bantuan sarana prasarana,’’ ujar Dwi Maryono.

Dia menyebut ada peternak yang bisa mengola sampah organik 20 kg sampai 30 kg sehari, bahkan ada yang sampai beberapa

kuintal sehari. DLHK sedang menyasar upaya pengurangan sampah pasar dengan larva lalat hitam. Pasar menjadi penghasil sampah organik dari sayuran dan buah-buahan.

‘’Ada anggaran dari Perubahan APBD 2020. Kami menyasar pasar sebagai penghasil sampah organik. Lurah pasar dipertemukan peternak maggot, nanti akan diupayakan tempat sampah tertutup. Bantuan juga berujud kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah bagi kelompok peternak maggot. Total anggaran Rp 790 juta,’’ kata Dwi Maryono.

Tahap awal, Pasar Srago dan Pasar Pedan akan dijadikan percontohan pengelolaan sampah dengan maggot. Untuk Pasar Srago dengan volume sampah hingga 7 kuintal melibatkan 4 peternak, sedangkan Pasar Pedan melibatkan satu komunitas beranggota 20 peternak. Pasar Jatinom dan Wedi juga sedang dirintis melibatkan peternak sekitarnya.

Sementara itu, Joko Yulistanto yang juga Kades Joho, Kecamatan Prambanan itu menyampaikan siklus hidup maggot.

Sedangkan Jumar Santoso dan Dana Heri Subyantoro mengulas bagaimana cara budidaya maggot, mulai dari penetasan telur, pembesaran larva hingga pemanfaatan kotoran maggot dan penggunaan maggot untuk pakan lele.

‘’Mulai dari telur hingga panen larva butuh waktu sekitar 21 hari. Larva bisa ditetaskan di atas limbah tahu, atau pakan yang lembek. Setelah cukup besar bisa diberikan sayuran atau sampah organik. Hebatnya, maggot punya keunggulan karena sampah menjadi tidak bau,’’ ujar Danang.

Setelah besar dan menjadi lalat bisa dipelihara dalam kandang strimin, nanti diberikan lempeng kayu untuk menempatkan telur. Maggot yang kulitnya masih lembut bisa dijadikan pakan ikan jadi tidak perlu membeli pakan lele. Ke depan, DLHK akan menggelar pelatihan budidaya maggot.

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan