Pandemi Covid-19, Aset BPR Tetap Meningkat

0
bpr-boyolali
UNDIAN: Petugas mengundi hadiah utama Tabungan Bersama enam BPR se- Boyolali. (sms.com/jm)

BOYOLALI,sms.com – Meskipun pandemi Covid-19 belum mereda, namun pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga (DPK) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kabupaten Boyolali masih cukup baik. Bahkan, tingkat pertumbuhannya masih lebih tinggi dibandingkan di Solo Raya.

“Bahkan juga lebih tinggi dibandingkan tingkat Jawa Tengah,” ujar Nova Hermawati, Kepala Bagian Pengawasan Bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo.

Ditemui wartawan seusai menghadiri Pengundian Tabungan Bersama Periode 7 tahun 2020, Selasa (27/10), dia menjelaskan, pertumbuhan aset BPR di Boyolali sampai per Agustus 2020 naik sebesar 15,7 persen dibanding tahun lalu.

Kenaikan DPK lebih besar lagi, yakni sebesar 22,25 persen. Hal itu menunjukkan pertumbuhan BPR di Boyolali lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan tingkat Jawa Tengah dan Solo Raya. Meski begitu, namun untuk penyaluran kredit, BPR di Boyolali penyalurannya masih dibawah Solo Raya.

“Untuk penyaluran kredit BPR di Boyolali baru 2,99 persen. Sedangkan NPL (Non Performing Loan) terjaga di 6,04 persen.”
Pihaknya pun meminta jajaran pengurus BPR di Boyolali untuk lebih kreatif dalam melaksanakan kegiatan operasional perbankan di tengah pandemi Covid-19. Apalagi, nasabah BPR banyak didominasi pelaku Usaha Mikro kecil dan menengah (UMKM).

Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi kinerja BPR di Boyolali sehingga mampu meningkatkan aset dan DPK yang tinggi. Hal itu merupakan kerja keras BPR dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah.

“Termasuk acara hari ini yang merupakan bentuk promosi untuk menarik minat masyarakat terhadap BPR.”

Sementara itu, Direktur Utama PT BPR Bank Boyolali (Perseroda), Dono Srihananto, mengungkapkan, kerjasama antar BPR untuk meningkatkan minat masyarakat menabung cukup efektif. Terbukti, dari tahun ketahun, dana nasabah yang dihimpun semakin meningkat.

“Sampai September lalu, dana yang dihimpun di tabungan bersama ini mencapai 40 miliar. Ini naik 10 persen dibandingkan tahun 2019.”

Dengan semakin tingginya dana yang dihimpun, kesempatan untuk membantu pelaku usaha juga semakin besar. Sebab dana yang terkumpul tersebut dapat digunakan untuk disalurkan kembali untuk usaha masyarakat.

Dono mengaku, di masa pandemi Covid-19, BPR kesulitan untuk menyalurkan kredit. Hal itu disebabkan, pelaku usaha dan pengelola BPR kesulitan memprediksi usaha yang akan dilakukan masyarakat.

“Mudah- mudahan pandemi Covid-19 segera berakhir agar pertumbuhan kredit dapat meningkat.” (jm)

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan