Difabel Desa Pucung Produksi Batik Ciprat

0
batik-ciprat-pucung-wonogiri
BATIK CIPRAT : Para tamu mencoba membuat batik ciprat di Desa Pucung, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (sms.com/ky)

WONOGIRI,sms.com – Para penyandang disabilitas intelektual di Desa Pucung, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri kini mampu membuat batik ciprat dan keset berbahan kain bekas konveksi.

Mereka telah merintis usaha itu sejak dua tahun yang lalu melalui pendampingan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) berbasis komunitas dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Temanggung.

Ratna Puspitasari, perwakilan Satgas Desa Inklusif Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) dan koordinator International Council for Small Business (ICSB) Wonogiri mengungkapkan, BBRSPDI telah melakukan pembinaan terhadap 23 difabel di desa itu.

“Mereka diberi pelatihan membuat batik ciprat dan keset,” katanya saat Terminasi Atensi Berbasis Komunitas BBRSPDI di Sheltered Workshop Peduli (SWP) Karya Barokah, Desa Pucung, baru-baru ini.

Selain dilatih membuat batik ciprat dan keset, Balai Latihan Kerja (BLK) Wonogiri juga telah membekali keterampilan membuat batik canting dan ecoprint. “Batik ecoprint itu membuat batik dengan memakai benda-benda alami, seperti dedaunan sebagai alat cetaknya,” terangnya.

Setelah dua tahun berjalan, para penyandang disabilitas sudah bisa membuat batik ciprat. Batik ciprat menurutnya lebih mudah bagi penyandang disabilitas karena hanya membuat pola berbentuk cipratan-cipratan.

Batik ciprat buatan para difabel itu dihargai sekitar Rp 135.000 sampai di atas Rp 200.000 per lembar. Adapun keset berbahan baku sisa konveksi dihargai sekitar Rp 10.000-15.000. “Harganya tergantung motif dan tingkat kesulitan pembuatannya,” imbuhnya.

Setelah pendampingan dari BBRSPDI selesai, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri, Camat dan kepala desa setempat untuk melanjutkan pembinaan. Rencananya Kagama juga akan melakukan pembinaan desa inklusif di Desa Pucung. “Desa Pucung disetujui sebagai desa inklusif karena jumlah penyandang disabilitas intelektualnya tinggi. Rencananya, tahun depan kami akan melanjutkan pembinaan,” ujarnya.

Dia menambahkan, meskipun sudah bisa membuat batik ciprat, para penyandang disabilitas itu masih membutuhkan pendampingan. Pasalnya, butuh kesabaran ekstra untuk mengarahkan penyandang disabilitas intelektual. (ky)

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan