Selamat Jalan Ki Seno ‘Narto Sabdo’ Nugroho Sang Pembaru Wayang

0
ki seno nugroho
Ki Seno saat menerima wayang dari Bupati Karanganyar saat memperingati Hari Wayang Dunia di tempat tersebut. (sms/jdh)

KEPERGIAN dalang kondang Ki Seno Nugroho terasa menyentak, sama dengan kedatangannya di blantika pewayangan yang juga sangat cepat. Ki Seno melejit menyamai bahkan menyalip ketenaran dua pioner wayang kulit Ki Mantep Sudharsono dan Ki Anom Suroto.

Saat kiblat wayang hanya tertuju pada dua nama itu, Ki Manteb dengan sabet dan sanggitnya yang ngedab-edabi, serta Ki Anom yang tetap dikenal dengan suara kung nya yang tak tertandingi, sehingga banyak dalang yang seringkali menyandingkan nama keduanya di belakangnya. Kedatangan Ki Seno memang menjadi kiblat baru khasanah pewayangan. Dia yang dibantu dengan kemudahan teknologi komunikasi, baik berkembangnya you tube dan media sosial lainnya seolh menjadi kiblat baru selain dua nama yang sudah dahulu tenar.

Dia bak Ki Narto Sabdo baru yang menjadi tetap kiblat saat Ki Manteb dan Ki Anom melejit. Dengan kepiawaiannya mengolah sanggit, dengan ceplas ceplosnya yang menjadikan pakeliran menjadi hidup, orang memang kemudian menjadi ingat betapa Ki Narto Sabdo melakukan hal serupa.

Tokoh Bagong yang selalu tampil jadi pembangkang para penguasa, baik Kresno dan bahkan Puntodewo sekalipun, menjadikannya maskot yang selalu ditunggu penonton. Sehingga pernah hampir sebulan tanggapan Ki Seno harus mengeluarkan dan menggarap lakon Bagong jadi pioner.

Tiada hari tanpa Bagong, yang juga tentu punokawan lainnya seperti Petruk dan Gareng yang juga kental dengan aroma pembangkangan dan pengeyelan. Penonton menjadi terwakili jeritannya saat tokoh Punokawan itu berani melawan bendoronya. Agaknya pas dengan perkembangan suasana sekarang.

Dan itu kemudian menjadikan Ki Seno kiblat baru. Apalagi di saat dua dalang kondang Ki Manteb dan Ki Anom mulai surut, Ki Seno tampil menjadi kiblat baru. Banyak dalang yang kemudian menirunya, mulai dari ketokohan punokawan, wayang raksasa yang dipakainya ketika Puntodewo dan Kresno malih rupa jadi Brahala, ataupun gaya pakelirannya yang memadukan gaya Yogyakarta dengan Solo.

Sukses besar Ki Seno memang ketika dia bisa memadukan dua gaya tersebut, sehingga telinga penonton begitu familiar dengan suara iringan gamelan gaya Yogyakarta dan Solo. Seakan tidak ada bedanya, yang penting dimainkan grup Ki Seno.

Peroaduan gaya itu sebelumnya memang sudah dirintis oleh Ki Narto Sabdo. Saat masih aktif mendalang, Ki Narto selalu menyelipkan nada gamelan Yogyakarta, terutama saat memasuki pathet 9. Sehingga dasarnya masih gaya Solo sedangkan gaya Yogyakarta sebagai sisipan.

Kelebihan Ki Seno justru dari awal dia sudah menampilkan gaya Yogyakarta, sedangkan gaya Solo baru muncul saat pathet 9 tengah malam sampai pathet manyuro hingga tanceb kayon. Yang menjadi nilai lebih, dobrakan Ki Seno sehingga gaya Yogya bisa diterima oleh telinga Solo. Dulu hampir selalu digunakan untuk saling ejek para penganut gaya Solo dengan Yogya.

Namun setelah Ki Seno mendalang gaya Yogya seatraktif gaya Solo, maka perlahan gaya Yogya bisa diterima semua penggemar wqayang. Mereka tidak mempermasalahkan apakah yang mereka lihat gaya Solo atau Yogya.Pokoknya yang ndalang Ki Seno, sehingga lahir penggemar wayang Ki Seno yang diwadahi khusus dan fanatik pada dalang tersebut.

Selamat jalan Ki Seno namamu sudah mengharumkan hasanah wayang Indonesia. (Joko DH)

Tinggalkan Pesan