Potensi Kawasan Rawa Jombor Purba Dikaji

0
objek-wisata-geopark-bayat1
BAYAT PURBA : Prof Suratman memaparkan hasil kajian tentang kondisi kawasan Bayat Purba dan Rawa Jombor Purba di Georium Dunia, Prambanan, Klaten.(sms.com/mer)

KLATEN,sms.com – Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yoyakarta dan komunitas melakukan kajian tentang potensi kawasan Rawa Jombor Purba dan Bayat Purba. Hal itu sejalan dengan program pengembangan potensi Rawa Jombor yang sedang dilakukan.

Proses kajian dan survei dilakukan tim yang diketuai Guru Besar UGM Prof Suratman MSi dengan melibatkan ahli geologi, ahli biologi dan tim penelusuran potensi sosial budaya dan potensi ekonomi. Hasil kajian dipaparkan di Georium Dunia di Desa Plaosan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Rabu (11/11/2020).

Kegiatan itu dihadiri Kasi Pengembangan Kawasan Diporapar Jateng, Hendrawan Purwanto, perwakilan dari DPU PR, BBWS Bengawan Solo, Disparbudpora Klaten, Kepala Kampus Geologi UGM di Bayat Dr Eng Didit Hadi Barianto ST MSi, perwakilan komunitas relawan dan lainnya.

‘’Banyak potensi yang bisa digali yang bisa mendukung rencana Pemprov Jateng, Pemkab Klaten dan Kementerian PUPR untuk melakukan penataan dan mengembangan kawasan Rawa Jombor dan Bayat Purba,’’ kata Prof Suratman.

Dalam kajian tersebut, ahli geologi mengungkap kekayaan alam berupa batuan unik dan fosil langka. Peneliti menemukan batuan berumur 98 juta tahun yang merupakan batuan tertua di Pulau Jawa. Sedangkan ahli biologi mengungkapkan keragaman flora dan fauna di kawasan itu.

Selain itu, dilakukan penggalian keunikan kawasan itu dari sisi sosial budaya dimasa lalu, tradisi unik dan kemungkinan pengembangan potensi wisata dan ekonomi kawasan itu.

Semuanya akan mendukung realisasi program Geopark Bayat akan menjadi salah satu prioritas dalam rencana pembanguan jangka panjang Pemkab Klaten.

‘’Pengembangan Rawa Jombor tak bisa dilepaskan dari potensi yang ada di Kawasan

Bayat Purba. Semua potensi harus digali bersama agar nantinya potensi itu dikembangkan.Saat ini, wisata sudah berkembang, begitu juga industri kerajinan seperti batik dan gerabah Bayat yang punya keunikan,’’ ujar Prof Suratman.

Tim akan memetakan seluruh potensi yang ada di kawasan Rawa Jombor dan Bayat Purba dalam sebuah buku. Di dalamnya juga akan dicantumkan potensi permasalah yang mungkin muncul dalam proses penataan dan pengembangan kawasan Rawa Jombor dan Bayat Purba, serta kemungkinan solusinya.

Dalam kesempatan itu, ahli geologi UGM, Dr Didit Hadi Barianto juga sempat mengulas tentang 13 titik yang mempunyai batuan purba dan fosil langka yang sedang diusulkan menjadi Geoheritage ke Kementerian ESDM. Setalah itu, baru proses menjadi Goepark Bayat bisa direalisasikan.

objek-wisata-geopark-bayat2

Hendrawan Purwanto mengatakan, untuk pengembangan kawasan Rawa Jombor diperlukan kajian agar proses penataan lebih terarah. Saat ini, rawa seluas 198 hektar itu dipenuhi warung apung, keramba dan usaha pemancingan. Semua akan ditata agar pengembangan wisata berjalan baik, namun ekosistem rawa tetap terjaga.

Tahun ini, Pemprov Jawa Tengah membangun dua joglo dan patung serta fasilitas pendukung lain di kawasan Rawa Jombor. Tahun 2021 mendatang, pembangunan akan dilanjutkan dengan menambah dua joglo lengkap dengan ruang pertemuan.

Terpisah, Pjs Bupati Klaten Sujarwanto Dwiatmoko menegaskan bahwa pembangunan kawasan Rawa Jombor dilakukan dengan sinergi yang baik antara Kementerian PUPR, Pemprov Jateng dan Pemkab Klaten.
Kepala Bappeda Klaten Sunarna mengatakan, rencana Geopark Bayat masih menunggu pengesahan Geoheritage dari Kementerian ESDM.

Namun dipastikan, Goepark akan masih dalam RPJMD, bersama kawasan Prambanan dengan candi-candinya. Semua itu akan disusun dan nantinya akan disesuaikan dengan visi misi bupati terpilih.(mer)

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan