Pelaku UKM Harus Mau Belajar Bahasa Inggris

0
tlc-karanganyar
KOMPETENSI SDM : Founder and Chairman Markplus Inc Hermawan Kertajaya menandatangani prasasti peluncuran Teacher Learning Centre (TLC) di SMP Kanisius Bharata 2 Jumapolo, Karanganyar Rabu (18/11/2020). (sms.com/din)

KARANGANYAR, sms.com – Pelaku usaha kecil menengah (UKM) harus mau belajar bahasa Inggris, agar pemasaran produk bisa menjangkau pasar internasional. Pelaku UKM harus disadarkan agar bersedia meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya.

Hal itu diungkapkan Chairman International Council for Small Business (ICSB) Indonesia Hermawan Kertajaya, di sela peresmian Teacher Learning Centre (TLC) di SMP Kanisius Bharata 2 Jumapolo, Rabu (18/11/2020).

TLC adalah program pembelajaran bahasa Inggris kepada guru-guru SD, bekerjasama dengan Oxford Course Indonesia (OCI) Soloraya. Dalam program tersebut, sejumlah guru SD di Jumapolo akan mendapat pelatihan tentang English for Spesific Purposes (ESP), sebagai bekal dalam menyampaikan pelajaran ke siswa dengan bahasa Inggris.

Hermawan mengungkapkan, salah satu problem UKM adalah kemampuan SDM, sehingga berimbas pada kurangnya jiwa entrepreneurship dalam menjalankan usahanya.

“Bukan cuma UKM di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Entrepreneurship-nya kurang. Banyak yang tidak siap jadi UKM. Padahal, UKM itu jatuh bangun. Makanya, harus belajar. Jangan pernah lelah belajar. Termasuk belajar bahasa Inggris, karena itu untuk meningkatkan kompetensi SDM,” tutur pria yang juga Founder and Chairman Markplus Inc ini.

Sebab, pemasaran produk UKM ke pasar internasional tidak bisa lepas dari kemampuan berbahasa asing pelaku usahanya. “Kalau perlu, pelajari juga bahasa Mandarin. Jika harus belajar, ya belajar,” tandasnya.

Hermawan berharap, program TLC nantinya bisa dikembangkan kepada pelaku-pelaku UKM. “Jadi tidak hanya untuk guru-guru SD, tapi juga kepada pelaku UKM. Ini bisa jadi embrio dalam upaya meningkatkan kompetensi SDM pelaku usaha kecil,” imbuhnya.

Perwakilan Tim TLC Soloraya Kus Baroto mengatakan, SMP Kanisius Bharata 2 Jumapolo dipilih sebagai pionir program TLC, karena memiliki potensi dalam upaya mengangkat nama Jumapolo.

“Pada tahap awal, TLC akan memberi pembelajaran bahasa Inggris kepada guru-guru SD. Sehingga bahasa Inggris bisa tuntas diajarkan di tingkat SD dan saat siswa berada di SMP dan SMA, bisa lebih fokus pada knowledge dan skill,” katanya.

Hal itu tak lepas dari usulan Ikatan Guru Indonesia (IGI) saat berdiskusi dengan Mendikbud Nadiem Makarim pada November 2019, agar pelajaran bahasa Inggris dituntaskan di tingkat SD.

Ke depan, TLC juga akan menyasar kepada pelaku UKM. Sebab, banyak UKM yang kehilangan pasar potensial dari luar negeri hanya karena pelaku usahanya tidak mampu berbahasa Inggris. (din)

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan