Ogah Di-home Visit, Ternyata Menikah dan Ngamen

0
sma-muhi-karanganyar
MILAD – Perayaan milad SMA Muhammadiyah 1 Karanganya dihadiri Bupati Juliyatmono yang bernostalgia karena pernah menjadi guru di sana. (sms.com/jdh)

*Liku-liku Sekolah Daring

KARANGANYAR,sms.com – Beginilah liku-liku sekolah daring yang terpaksa dilakukan karena pandemi Covid-19 ini, Siswa lebih dari tiga kali tidak mengikuti online dengan guru, ternyata saat dilakukan home visit ke rumahnya, baru diketahui anak tersebut sudah dinikahkan orang tuanya.

‘’Yang aneh-aneh juga, siswa tidak mengikuti sekolah daring lebih dari tiga kali, dan saat home visit, dia ternyata memilih ngamen. Penampilannya sudah berubah, gondrong dan dekil. Itu yang terparah. Kalau yang lain ada yang bekerja serabutan membantu orang tuanya,’’ kata Sumarwanto, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar, saat milad di sekolah itu, Kamis (19/11/2020).

Akhirnya sekolah harus memperketat home visit, agar guru lebih rajin mengunjungi siswanya, dan juga mengefektifkan daring agar siswa lebih terpantau gerakannya di rumah maupun lainnya. Jangan sampai pandemi berakibat siswa semakin terabaikan pendidikannya.

SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar yang merupakan sekolah swasta paling maju dengan jumlah siswa 32 rombongan belajar dari kelas 1 sampai kelas 3 juga berhasil menciptakan aplikasi Sinaumu semacam google meeting atau zoom system untuk belajar online.

Aplikasi itu diciptakan sendiri untuk kalangan internal, dan ternyata justru lebih efektif dibandingkan sistem lain. Sebab saat pelajaran daring, jika sistem lain hilang begitu saja, maka pertemuan menggunakan aplikasi Sinaumu itu langsung terekam dan bisa diulang.

Dengan begitu aplikasi hasil otak-atik tim Information Technology SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar itu lebih efisien dan siswa bisa mengulang-ulang pelajaran tanpa perlu merekam. Di samping itu mereka juga makin bangga karena menggunakan aplikasi sendiri.

Kelebihan lain, sistem itu bisa mendeteksi posisi ponsel siswa yang sudah terdaftar, sehingga jika siswa absen mengikuti pendidikan daring bisa diketahui sedang berada di mana. Sekolah bisa mengecek.

Untuk tidak menghilangkan hubungan psikologis siswa dengan guru, setiap seminggu sekali 42 kelas itu secara bergiliran didatangkan ke sekolah untuk berkonsultasi dan bertatap muka dengan guru. Di situ siswa bisa bertanya soal pelajaran atau sekolah.

‘’Ini bukan sekolah tatap muka, namun kami namakan konsultasi, meski tetap mematuhi protokol kesehatan. Sehingga sampai sekarang kegiatan konsultasi, tatap muka itu bisa berlangsung efektif. Jika tidak, nanti tahu-tahu siswa sudah menikah atau bekerja seperti itu,’’ kata Sumarwanto.

Sekolah swasta terbesar di Karanganyar itu memang tidak kesulitan siswa, karena siswa yang mendaftarkan membeludak. Pernah saat tidak dibatasi, kelas I ada 1.600-an siswa. Sekarang jumlah total kelas ada 36 karena dibatasi aturan hanya menerima 12 kelas. Untuk tahun ajaran 2021-2022 saja sudah ada 150-an siswa yang inden.(jdh)

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan