Batu Bata Ekspose Dlepih Tirtomoyo Tetap Tangguh Diterjang Pandemi

1
batu-bata-tirtomoyo-wonogiri
BATU BATA : Supriadi (54) perajin batu bata ekspose Dusun Karakan RT2 RW7 Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri menyusun batu bata yang hendak dibakar, baru-baru ini. (sms.com/ky)

WONOGIRI,sms.com – Pandemi virus corona (Covid-19) tampaknya tidak berpengaruh pada perajin batu bata ekspose dan batu bata tempel. Buktinya, perajin batu bata di Dusun Karakan RT2 RW7 Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri masih kewalahan memenuhi permintaan.

Seperti yang dialami Supriadi (54) perajin batu bata ekspose Dusun Karakan RT2 RW7 Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo. Salah satu permintaan terbesar datang dari wilayah Kabupaten Karanganyar.

“Sekali pesan sampai 20.000 batu bata. Belum selesai dibuat, sudah datang pesanan lagi,” katanya, Minggu (22/11).

Baca : Kebutuhan Logistik Pengungsi Merapi Boyolali Dijamin Cukup

Harga batu bata ekspose dan batu bata tempel lebih mahal dari pada batu bata biasa. Batu bata biasa harganya berkisar Rp 500 per buah. Tetapi harga batu bata ekspose mencapai Rp 600 per buah, sedangkan batu bata tempel mencapai Rp 1.000 per buah.

Batu bata ekspose atau tempel biasanya digunakan untuk bangunan model klasik atau tradisional Bali. Di mana susunan batu batanya sengaja diperlihatkan pada temboknya untuk menunjukkan kesan eksotik.

“Biasanya dipakai untuk membangun cafe, gapura, atau bangunan-bangunan model bali,” imbuh pria yang telah tiga tahun menekuni pembuatan batu bata ekspose itu.

Baca : Aliansi Warga Kota Solo Tolak Habib Rizieq di Kota Bengawan

Proses pembuatan batu bata ekspose dan batu bata tempel lebih rumit. Bahan adonannya dibuat dari campuran tanah liat merah, tanah liat hitam dan tanah padas yang sedikit berpasir. “Bahannya didatangkan dari gunung-gunung sekitar Tirtomoyo,” katanya.

Adonan tanah liat itu harus digiling dua kali kemudian dicetak. Untuk batu bata tempel panjangnya 24 sentimeter, lebar enam sentimeter dan tebal dua sentimeter. Untuk batu bata ekspose, panjangnya 20 sentimeter, lebar 10 sentimeter dan tebal lima sentimeter.

Sudutnya harus benar-benar rapi, tidak boleh bengkok, dan tidak boleh pecah atau gompal. “Batu bata biasa kalau patah atau pecah sedikit masih bisa dipakai. Tapi kalau bata ekspose dan tempel tidak bisa,” terangnya.

Pengeringan harus di bawah sinar matahari selama 3-4 hari jika cerah atau seminggu jika cuaca sering hujan. Selanjutnya, batu bata itu dibakar selama sehari hingga warnanya berubah kemerahan. “Dalam seminggu, saya membakar sekitar 7.000 bata ekspose,” ujarnya.

Dia terkadang mengalami kesulitan memenuhi permintaan karena tidak banyak orang yang mau membuat batu bata ekspose atau tempel. Para perajin lain lebih suka membuat batu bata biasa.

Sementara itu, Basuki warga Dusun Karakan menambahkan, sebagian besar warga dusun itu berprofesi sebagai pembuat batu bata. Dusun Karakan bahkan telah menjadi sentra industri batu bata pres. (ky)

Editor : Sarmun

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan