Para Siswa Lereng Merapi tetap Belajar

0
pengungsi-merapi-belajar
PROTOKOL KESEHATAN: Para siswa SDN 2 Tlogolele, Kecamatan Selo belajar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. (sms.com/ky)

BOYOLALI,sms.com – Pandemi Covid-19 ditambah kondisi Merapi dalam status siaga tak menyurutkan anak- anak untuk bersekolah. Anak-anak pengungsi Gunung Merapi ini tetap mengikuti belajar di sekolah demi memantapkan materi pelajaran.

Seperti di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi. Bahkan warga di tiga dukuh yang masuk kategori rentan seperti anak-anak, ibu hamil (bumil), dan lanjut usia (lansia) di wilayah tersebut sudah diungsikan.

Baca : Clear, Ganti Rugi 20 Bidang Tanah Terdampak Jalan Tol di Desa Ngasem

Namun, kegiatan belajar mengajar bagi para siswa SD tetap berjalan. Meskipun hanya masuk dua kali seminggu. Mereka tekun belajar dengan menerapkan protokol kesehatan sebagai antisipasi penyebaran virus Covid-19.

“Kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi pengungsi anak-anak terus berjalan. Yaitu, dengan kombinasi daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan),” kata Sri Sukarni Kepala SDN 2 Tlogolele.

Sebelum masuk ke dalam kelas,  puluhan siswa secara tertib berbaris dan menjaga jarak. Mereka antre untuk mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir yang telh disiapkan di depan kelas.

“Guru juga mengukur suhu badan siswa menggukan pengukur suhu thermogun. Para siswa juga diwajibkan mengenakan masker dan face shield.”

Di sekolah anak anak ini hanya belajar selama maksimal satu jam dengan pendampingan dari guru kelas. Meski diliputi rasa was- was dengan kondisi Gunung Merapi, namun para siswa merasa senang bisa belajar di sekolah dan dibimbing langsung dari guru.

“Tiap hari kami batasi dua kelas dengan maksimal hanya lima siswa saja yang masuk per kelas. Durasi masuk sekolah hanya 1 jam, pukul 07.00-08.00.”

Pihaknya mnegakui, kegiatan bersama para siswa ini bukan pembelajaran tatap muka.  Namun, hanya sebatas koordinasi dengan siswa,  yaitu belajar bersama, karena tidak mungkin untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Baca : Aliansi Warga Kota Solo Tolak Habib Rizieq di Kota Bengawan

Mengingat PJJ sistem online yang diterapkan sejak awal pandemi Covid-19 kurang berjalan maksimal. Sebab, mayoritas siswa tidak bisa mengakses PJJ. Terganjal akses internet dan ketersediaan fasilitas penunjang berupa ponsel.

“Boyolali masih zona merah Covid-19. Kami belum berani melakukan pembelajaran tatap muka. Namun untuk PJJ juga sulit karena minimnya akses internet dan kepemilikan ponsel para siswa. Sehingga kami ambil jalan tengah seperti ini.” (Joko M) 

Editor : Sarmun

Tinggalkan Pesan