Jogo Tonggo Mencegah Covid-19

0
ilustrasi-jogo-tonggo

Oleh Abdul Rahman, Ph.D*

CORONAVIRUS (Covid-19) masih akan menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia, yang dalam konteksi lokal warga masyarakat Kabupaten Boyolali. Data terakhir perkembangan Covid-19 ternyata perlu pencegahan dan penanggulangan dengan tepat dan cepat.

Melalui laman Monitoring Data Kabupaten Boyolali, Pemerintah Boyolali menyajikan data terbaru 01-12-2020 pada 13.30 WIB bahwa kasus konfirmasi komulatif 2108, pasien dirawat 203, menjalani isolasi mandiri 402, sembuh 1435, dan wafat 68 orang. Zona Merah Boyolali perlu aksi cepat Jogo Tonggo dan gugus Covid-19 lainnya.

Kekhawatiran terjadinya zona merah ini sudah menjadi diskusi sesama tim peneliti UNS sejak Juli 2020. Pada 21-26 Juli 2020, tim Pengabdian Masyarakat Univeritas Sebelas Maret (UNS) telah melakukan observasi tiga pasar tradisional – Pasar Tradisional Jetis di Dukuh Kadipaten Kecamatan Andong, Pasar Sayuran Cepogo Kecamatan Cepogo dan Pasar Wonosegoro Kecamatan Wonosegoro.

Di tiga pasar tradisional tersebut, ada kerumunan masal kurang lebih 150 orang per hari di pasar Jetis, kata ibu TIN (52) pedagang buah pisang sejak 2012. Hal senada diungkapkan oleh ATI penjual sayur lontong dari pasar Wonosegoro. Sedangkan IHA (47) pedagang Sayuran 10 tahun pasar Cepogo menegaskan mengkhawatirkan Covid-19 meningkat lagi. Warga pasar sulit menjaga jarak antara penjual dan pembeli. Transaksi dan pembayaran secara tunai di pasar sayuran.

Beliau juga menyebutkan bahwa kerumunan pasar diperkirakan mencapai 1000-1500 orang perhari. Ini kerumunan pasar paling besar di Boyolali. Jogo Tonggo perlu terus memantau kondisi pasar sayuran di Cepogo. Dengan mempertimbakan data statistik dan realitas kerumunan masa di atas, Jogo Tonggo diyakini oleh warga masyarakat Boyolali. Jogo Tonggo jangan sampai lengah. Bersama anggota Gugus Covid-19 di Randusari, Kadipaten, dan Wonosegoro. Jogo Tonggo sebaiknya rutin ke lapangan melanjutkan penanggulangan penularan infeksi covid-19 di setiap desa.

Jogo Tonggo berhasil meyakinkan para pedagang, sopir, dan pembeli untuk mentaati pelaksanaan protokol kesehatan. Diakui semua pihak, social distancing sulit diterapkan karena transaksi jual beli tunai. Pemakaian masker dan mencuci tangan dengan sabun supaya dibiasakan oleh penjual dan pembeli sayuran di pasar Cepogo. Jogo Tonggo perlu lebih intensif memantau prilaku sehat mereka ketika berada di lingkungan pasar.

Selain pasar tradisional, tim UNS juga mengunjungi 6 masjid/mushola. Tim juga telah mewancarai 10 orang terdiri dari tamir, imam, khotib, muadzin, dan jamaah dari warga sekitarnya. Hasil pendataan kerumunan masjid perlu pemantauan Jogo Tonggo. Volume kerumunan masa yang berpotensi penularan Covid-19 memang bervariasi.

Data menunjukkan bahwa masjid terbesar Nurul Hadi 500-600 jamaah shalat Jumah ketika tim UNS observasi. Masjid Jami Al Hikmah berkumpul 300-400 orang. Masjid Al Mukmin 150-300 jamaah. Masjid Baitur Rohim sebanyak 140-200 jamaah. Masjid Al Hidayah 50-80 orang berjamaah. Dan Mushalla Al Barokah 30-50 jamaah.

ilustrasi-corona
FOTO ILUSTRASI

Data ini mendorong gugus Covid-19 di tingkat dukuh, desa dan kecamatan untuk mengingatkan warga masyarakat mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak aman. Bahkan, kerjasama antara Jogo Tonggo dan pengelola masjid/mushala perlu ditingkatkan untuk memantau pelaksanaan protokol kesehatan di setiap masjid. Yakinkan bahwa pelaku perjalanan taati isolasi mandiri sebelum berjamaahbke masjid, demikian ketua tamir masjid Nurul Hadi yang lokasinya dekat PT Aditex Randusari.

Jogo Tonggo bersama tamir masjid sebenarnya telah berhasil mengatur shaf salat dan menjaga disiplin jamaah dalam melaksanakan protokol kesehatan. Tapi, dengan fluktuasi kasus terkonfirmasi komulatif 2108 di Boyolali, Jogo Tonggo diharapkan semakin mampu menjaga keswadayaan warga tiap RW/RT dalam pencegahan infeksi Covid-19. Mereka sebaiknya semakin intensif mendampingi warga masyarakat dalam kegiatan di setiap desa.

Di kala penyemprotan disinfetan semakin jarang dilakukan, hampir di semua masjid dan pasar yang telah diobservasi, Jogo Tonggo masih menjadi harapan sebagai garda depan pencegahan infeksi Covid-19. Kita semua berharap tidak muncul cluster PDP di masjid dan pasar. Keduanya, masjid dan pasar, sangat vital bagi kehidupan warga masyarakat, desa maupun kota.
Selain kampanye jaga imun, setiap orang dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) Jogo Tonggo perlu meneruskan edukasi komunitas pasar tradisional dan jamaah masjid.

Menghidupkan pasar tradisional dengan prilaku kerumuan bersih dan sehat berarti menjaga roda ekonomi desa, mencegah pengangguran dan kemiskinan, dan menghindari kematian karena kelaparan. Menjaga kerumunan di masjid dengan PHBS berarti menjaga ritualisasi keikhlasan gotong royong, dan menyatukan ihtiar dan doa dalam menjauhkan warga dari pandemi Covid-19. Istilahnya, “Jogo Tonggo Teka. Covid-19 Lungo. (sr)

jogo-tonggo-abdul-rahman

*Ketua Tim Pengabdian Pencegahan Covid-19 Universitas Sebelas Maret 2020

Tinggalkan Pesan