PR untuk Kapolri Menggunung

0
Komjen-Listyo-Sigit-Prabowo
FOTO DIRI : Komjen Listyo Sigit Prabowo (dokumentasi)

SOLO- suaramerdekasolo.com– Penunjukkan Komjen Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal Kapolri pengganti Jenderal Pol Idham Azis menjadi harapan baru agar Polri makin dicintai rakyat.

Jenderal bintang tiga dipundak yang menjabat sebagai Kabareskrim tersebut dikenal tegas, bersih serta banyak prestasi yang diraih dalam menangani berbagai kasus.

Perwira Tinggi Polri yang 9 tahun lalu menjadi Kapolresta Surakarta itu membawa harapan besar bagi masyarakat.

“Besar harapan masyarakat Indonesia jika Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menjabat sebagai orang nomor satu di Polri,” tegas Direktur Amir Machmud Center, Dr Amir Machmud saat berbincang santai, Kamis (14/1/2021) pagi.

Tokoh yang pernah mendirikan pergerakan radikal itu menjelaskan banyak pekerjaan rumah bagi Kapolri yang baru. Diawali dalam memerangi paham radikalisme hingga membersihkan internal kepolisian dari oknum-oknum tertentu.

“Kami menaruh harapan besar beliau mampu menegakkan hukum dan keadilan. Termasuk memberantas radikalisme di Indonesia ini. Dan, membuat institusi kepolisian Republik Indonesia bersih dari oknum-oknum berkepentingan,” tandas praktisi radikalisme Indonesia yang gerakan organisasinya pernah dicurigai pemerintah tersebut.

Di sisi lain, Dr Amir Machmud juga menyikapi indenpendensi korps Bhayangkara itu untuk konsen dalam menegakan hukum di Indonesia. Jangan sampai, citra institusi Kepolisian terlibat dalam politik praktis.

“Polri harus independent dalam menangani kasus. Jangan sampai terseret dalam arus politik praktis,” terangnya.

Perhatian Publik

Seperti diketahui, dibawah kepemimpinan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, Bareskrim banyak mengungkap sejumlah kasus besar yang menyedot perhatian publik.

Di antaranya, mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan pada 27 Desember 2019 atau 12 hari usai dilantik sebagai Kabareskrim. Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengumumkan secara langsung penangkapan dua tersangka penyiraman yakni RM dan RB yang merupakan oknum anggota kepolisian.

Setelah itu, Bareskrim Polri melimpahkan tahap II kasus tersangka dan barang bukti kasus dugaan korupsi Kondensat PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), ke Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah dinyatakan lengkap atau P21.

Komitmen

Diketahui, kasus ini sudah bergulir sejak 2015 lalu dan mangkrak lama lantaran adanya kendala non-teknis. Namun, adanya koordinasi yang kuat antara Bareskrim dan Kejaksaan Agung akhirnya perkara tersebut bisa dirampungkan.

Dalam pengadilan, Honggo divonis 16 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, subsidair 6 bulan kurungan. Sementara dua tersangka lainnya Raden Priyono dan Djoko Harsono divonis 4 tahun penjara ditambah denda Rp 200 juta, subsider 2 bulan.

Tak berhenti disitu, Bareskrim juga membuktikan bahwa penegakan hukum tak pandang bulu dan mewujudkan komitmen dalam melakukan pembenahan internal.

Hal itu tercermin dalam penangkapan buronan terpidana kasus hak tagih (cassie) Bank Bali, Djoko Tjandra pada 30 Juli 2020. Bahkan, Komjen Listyo Sigit memimpin langsung tim ke Malaysia guna menangkap Djoko Tjandra. Penangkapan Djoko Tjandra berawal dari perintah Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis membentuk tim untuk membawa buronan Djoko Tjandra kembali ke Indonesia.

Selain kasus tersebut, masih banyak kasus kriminal lainnya yang berhasil diungkap.

Pada tahun 2020 tercatat, Bareskrim Polri menerima laporan polisi terkait kasus tindak pidana korupsi sebanyak 1.412. Dari angka itu, diantaranya sudah ada yang rampung atau P21 sebanyak 485, dilimpahkan 19 dan dihentikan atau SP3 ada 31 perkara. Sampai saat ini, Bareskrim Polri masih melakukan proses penyidikan sebanyak 877 perkara tindak pidana rasuah di Indonesia. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan