Mencuat Masalah Baru, Kasus Penembakan Bos Tekstil Duniatex

0
DiTEMBAK- Mobil Alphard yang ditumpangi korban, Indriati (72), terdapat beberapa bekas lubang peluru yang ditunjukkan Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak di Polresta Surakarta, awal Desember 2020. (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SOLO, suaramerdekasolo.com– Kasus penembakan Bos Tekstil Duniatex, Indriati (72) yang dilakukan Lukas Jayadi (72), di Jalan Monginsidi, awal Desember 2020, kini mencuat masalah baru.

Kasus yang sempat menghebohkan itu diyakini dipicu masalah penjualan aset milik tersangka Lukas Jayadi kepada korban Indriati pada tahun 2010, terungkit kembali. Dimana tersangka yang menjual tanahnya sekitar 17 hektar seharga Rp 16 miliar, namun belakangan tersangka minta tambahan uang Rp 10 miliar dengan asumsi harga tanahnya sekitar Rp 26 miliar.

Alasan berdasar versi tersangka Lukas Jayadi yang konon dituangkan dalam BAP itu, rupanya dibantah pihak korban.

Mohammad Saifuddin SH sebagai penasehat hukum Indriati mengatakan, percobaan pembunuhan yang dilakukan Lukas Jayadi dengan sasaran kliennya bukan dipicu masalah jual beli tanah milik tersangka di Jaten, Karanganyar. Sebab transaksi jual beli sudah sah dan selesai sejak lama.

Pembelian tanah yang sebagian lahannya ada gudangnya itu, lanjut dia, dilakukan bukan saat terjadi lelang. Namun hal itu terjadi sebelum aset berupa tanah milik tersangka yang semula dianggunkan di bank dilelang.

Proses jual beli, kata Saifuddin, terjadi saat Lukas Jayadi meminta istrinya agar tanahnya dibeli oleh kliennya. Dengan harapan tanah masih dimiliki keluarga karena istri Lukas Jayadi merupakan adik korban.

Saifuddin menambahkan, usai kliennya membeli tanah Lukas Jayadi pada 2010 lalu, sudah tidak ada kesepakatan apapun.

Namun, lanjut Saifuddin, ada komunikasi jika dua atau tiga tahun pasca pembelian tanah tersebut, Lukas Jayadi bisa membeli tanahnya lagi dari kliennya. Namun, hal itu tidak pernah terjadi. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan