Pembudidaya Anggrek Wonogiri Bertahan Hadapi Pandemi

0
budidaya-anggrek-wonogiri
MEMBUDIDAYAKAN ANGGREK : Gino (66) membudidayakan anggrek di perkebunannya di Dusun Batucentang, Desa Tegiri, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Pembudidaya anggrek di Desa Tegiri, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri mampu bertahan menghadapi pandemi virus corona (Covid-19). Harga anggrek juga tetap stabil meskipun terjadi tren atau booming pada beberapa jenis tanaman hias.

Seperti yang dialami Gino (66), pembudidaya tanaman anggrek Desa Tegiri, Kecamatan Batuwarno. Bisnis anggrek sempat sepi saat pandemi Covid-19 berawal di akhir tahun 2019. “Dari akhir tahun 2019 sampai memasuki tahun 2020 sama sekali tidak ada pesanan,” katanya, Minggu (24/1/2021).

Pesanan anggrek baru mulai mengalir pascalebaran 2020 lalu. “Alhamdulillah, sekarang sudah mulai normal,” imbuhnya.

Pria yang mengawali bisnis anggreknya sejak 1990 lalu itu mengungkapkan, harga anggrek juga stabil, tidak terpengaruh booming tanaman hias akhir-akhir ini. “Harganya cenderung tetap. Bahkan, untuk menaikkan harga Rp 1.000 saja susah,” ujarnya.

Dia menanam beberapa jenis anggrek, seperti dendrobium, cattleya, mokara dan vanda. Harga anggrek yang dia budidayakan berkisar Rp 30.000-50.000 per batang. Anggrek tersebut dibeli oleh para pedagang, kemudian dikirimkan ke wilayah DIY, Jateng, dan Jatim. “Saya tidak menanam anggrek yang unik atau langka karena mahal dan pasarnya di sini tidak terjangkau,” terangnya.

Gino menuturkan, bibit-bibit anggrek didatangkan dari Thailand dengan harga USD 1 atau setara Rp 13.000-14.000 per batang. Bibit tersebut kemudian dibesarkan selama 1,5 tahun hingga berbunga. Setelah berumur 1,5 tahun, harganya menjadi Rp 30.000-50.000 per batang.

Perkebunan anggrek di Desa Tegiri menempati lahan seluas 4.000 meter. Di atas lahan seluas itu bisa digunakan untuk menanam sekitar 70.000 batang anggrek. (Khalid Yogi)

Editor :Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan