Patut Diwaspadai, Perubahan Kebiasaan Belajar Online ke Offline

0
pendidikan-wonogiri
CINDERA MATA : Ketua TP PKK Kabupaten Wonogiri Verawati Joko Sutopo menyerahkan cindera mata kepada mantan Wakil Ketua I TP PKK Wonogiri Denny Risnindyatira saat pelantikan pengurus TP PKK Kabupaten Wonogiri masa bakti 2021-2026 di pendapa kabupaten tersebut, Jumat (12/3/2021). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Cepat atau lambat, anak-anak sekolah akan mengakhiri proses pembelajaran online dan kembali ke pembelajaran tatap muka atau offline. Perubahan tersebut harus menjadi perhatian bagi orang tua maupun anak. Pasalnya, pembelajaran online yang berlangsung selama lebih dari setahun ini telah menimbulkan kebiasaan baru.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonogiri Verawati Joko Sutopo mengatakan, ada beberapa program yang menjadi prioritasnya. Yakni pengentasan stunting, pendampingan persiapan anak-anak untuk pembelajaran offline serta menekan kekerasan pada anak dan kenakalan remaja.

“Anak anak sudah setahun terlena belajar online. Awalnya bermasalah, tapi sekarang sudah biasa, zoom meting sudah lancar, sinyal bagus, dan kuota diberi pemerintah,” katanya usai menggelar pelantikan pengurus TP PKK Kabupaten Wonogiri masa bakti 2021-2026 di pendapa kabupaten tersebut, Jumat (12/3).

Karena pembelajaran online yang terlalu lama itu anak-anak menjadi kehilangan kebiasaan belajar offline. Seperti kebiasaan bangun pagi, sarapan, memakai seragam, berangkat sekolah, duduk di kelas sampai siang, menghafal tanpa orang tua, hingga mengerjakan tugas di sekolah tanpa kehadiran orang tua.

“Selama ini kebiasaan itu hilang. PR jadi terbiasa dikerjakan orang tua. Ibaratnya, tinggal menunggu meledaknya kapan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut dirasakan sendiri oleh Verawati ketika mendidik anaknya di masa pandemi virus corona (Covid-19) ini. Anak menjadi belajar semaunya karena tugas bisa dikerjakan dengan membuka buku atau melalui bantuan mesin pencarian Google.

Perubahan belajar online menjadi offline kelak akan dirasakan berat bagi anak maupun orang tua. “Mereka pasti akan memilih online lagi karena lebih santai. Itu berbahaya. Apalagi selama setahun ini anak-anak kehilangan pendidikan,” terangnya. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan