Brand Solo dari BST

0
bst-koridor-2
BERHENTI DI SELTER : Bus Batik Solo Trans (BST) Koridor 2 berhenti di selter Jalan Monginsidi, Solo. (suaramerdekasolo.com/Yusuf Gunawan)


Oleh : Damar Tri Afrianto *

SOLO dimasa pandemi tetap menunjukan produktifitasnya dalam perwajahan kota. Masyarakat Solo disajikan pemadangan baru di era new normal ini melalui transportasi kebanggaan Batik Solo Trans (BST) dengan hadirnya gambar Wayang Orang di armada bus. BST bukan hanya sekadar moda transportasi yang melayani mobilitas warga solo, namun kehadirannya adalah bentuk stretegi citra brand yang cukup sukses untuk memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya. Pasalnya, desain bus tersebut mampu mengeskplorasi sumber daya budaya setempat, batik misalnya, karya seni khas yang melekat di Solo diafiliasi menjadi bagian dari ornamentasi bus, akhirnya dilegitimasi menjadi nama yang kita kenal dengan Batik Solo Trans (BST).

BST kini mulai berinovasi desain dengan mengadirkan kesenian yang saat ini mulai tak terdengar lagi kiprahnya yaitu Wayang Orang atau Wayang Wong. Ekisistensi Wayang ini cukup memprihatinkan, sebelum pandemi, permasalahan kesenian Wayang Wong sudah mencuat, mulai dari kesediaan generasi penerus, hingga panggung yang mulai sepi, hal ini sepat diperparah dengan hilangnya Taman Sriwedari sebagai jantung kesenian rakyat.

Sebagai warga asli solo, secara pribadi menilai, kehadiran gambar-gambar Wayang Wong di BST menjadi penanda kebangkitan memori kolektif bahwa kesenian itu pernah menjadi primadona warga Solo. Apakah kehadiran sejumlah nama-nama tokoh Wayang Wong di BST itu sebagai upaya pelestarian wayang Wong?, tentu tidak secara langsung. Kehadiranya menjadi sebuah stretegi desain brand identitas kota. Desain brand penting untuk membuat citra dan legitimasi ‘perbedaan’ dengan sesuatu yang lain.

Desain Brand

Sebuah kewajaran, ketika kota atau daerah mengkomunikasikan identitasnya karena identitas adalah cara kita menciptakan perbedaan. Nilai sebuah ‘perbedaan’ inilah yang terus dicari. Homi K. Bhaba dalam tulisan berjudul The Location Of Culture menyebut pentingnya sebuah identitas karena di dalamnya terdapat perkara kepemilikian (belonging) secara individu atau bersama dan apa yang membedakan anda dari yang lain. Salah satu praktik yang mengkomunikasikan identitas tersebut adalah strategi desain brand. Desain brand adalah strategi visul dan non visual, yang dalam istilah Kotler (2009) merupakan nama, istilah, tanda, simbol, rancangan atau kombinasi dari semuanya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi (identik) dan mendeferensiasi (membedakan).

Cara kerja desain brand inilah sekiranya yang dipraktikan pemerintah Kota Solo dalam mendesain BST dengan menggunakan Wayang Wong. Dalam dunia brand desain ‘Wayang Wong’ berperan sebagai modal indentik dan defernsiasi. Dari praktik tersebut ‘Wayang Wong’ secara tersirat digiring menjadi sebuah retorika (gaya bahasa) untuk mengkomunikasikan identitas Kota Solo. Namun, kerja branding tentu tak semudah hanya menaruh gambar yang bermuatan tradisi lantas brand itu berhasil. Perlu diperlukan modal wacana desain dan perangkat pengetahuan berakaitan dengan metodologinya.

Kegagalan brand kota salah satunya adalah penerapan desain yang tidak partispatif dan etnografis. Mereka kerap berorentasi pada proyek sehingga nihil secara nilai. Kini berkembang metode desain partispatif yang merupakan turunan dari sosial desain, metode ini mencoba melawan desain modern yang bekerja dengan sistem Top Down, artinya pihak produsen memaksakan ide dan mendikte dari atas kepada konsumer sehingga menjadi otoritatif. Disinyalir metode desain top down inilah yang kerap menjadi polemik di masyarakat. Oleh karena itu desain partisaptif hadir menawarkan metode yaitu kolaborasi, yaitu kesetaraan antara produsen, desainer, dengan non-desainer atau konsumer (masyarakat), keduanya sama-sama menjadi kreator. Dalam menciptakan desain brand kota dengan metode partisipasi, ada kolaborasi antara pihak pemerintah dengan warga. Praktik ini juga bermanfaat untuk menghindari disruptif nilai.

Kota Solo yang dekat dengan nuansa seni dan budaya tradisi, perlu memperhatikan beberapa hal saat membawa aspek ketradisionalan menjadi sebuah brand identitas kota. Kita tahu, tradisi memiliki seperangkat nilai dan pakem yang terwarisi sebagai khasanah peradaban. Brand kota yang hanya sekedar memindahkan tradisi dalam ruang publik dalam ilmu semiotika disebut dengan metonimi, artinya mengambil sebagian dari keseluruhan. Praktik tersebut berpotensi akan mendisruptif nilai tradisi, disruptif ini terjadi bisa terjadi karena faktor pengetahuan yang sepihak dan pola desain top down yang telah dijelaskan di awal.

Desain partispasi sangat strategis untuk meminimalisir disruptif nilai tradisi dalam membangun brand kota. Pemerintah kota dan seniman atau budayawan dalam hal ini bisa duduk bersama dalam kesetaraan untuk sama-sama memberi wajah kota yang lebih arif. Keduanya berkolaborasi dengan kapasitasnya masing-masing untuk merumuskan desain brand yang bukan hanya ajang pamer tradisi tapi juga mengedukasi tradisi.

Memang, desain partispatif ini biasanya dihindari oleh institusi pemerintah karena kerap memakan waktu lama, Namun, desain partisipatif ini masih memiliki keyakinan bahwa kolaborasi ini adalah kolaborasi yang mengajak insan yang memiliki kompetensi pada bidang ilmunya sebagai partisipannya, sehingga desain brand yang dihasilkan membawa semangat kebersamaan sebagai identitas.

*Dosen DKV di Institut Teknologi Telkom (ITTP) Purwokerto asal dari Solo

bst-solo

Tinggalkan Pesan