Seratus Napi dan Tahanan Titipan di Rutan Ngaji Bareng

0
lapas-kota-surakarta
NGAJI BARENG- Para warga binaan di Rutan Kelas I Surakarta ngaji bareng dalam kegiatan pesantren kilat di Masjid Rutan, pada Senin (19/4/2021). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

*Pertobatan di Bulan Ramadan

SOLO, suaramerdekasolo.com– Di bulan suci ramadan, Rutan Kelas 1 Surakarta punya kegiatan yang cukup menarik yakni Pesantren kilat. Salah satu kegiatannya yakni ngaji bareng para warga binaan yang menjalani proses hukum di rutan yang ada di tengah kota, tepatnya di Jalan Slamet Riyadi tersebut.

Ada seratusan narapidana dan tahanan titipan selama sebulan penuh diwajibkan mengaji bareng dengan tagline one day one juzz (satu hari satu juzz).

Para warga binaan yang ikut ngaji bareng terdiri dari napi yang terjerat tindak pidana umum, napi narkoba hingga para tahanan titipan yang belum ada keputusan hukum tetap alias vonis.

Salah satu tahanan titipan yakni Wahyudi (29) begitu rajin mengaji hingga bisa melafal surat dalam Alquran. Tahanan kasus narkoba itu sebelum masuk penjara tidak pernah mengaji. Bahkan membaca huruf arab saja tidak pernah. “Namun begitu ditahan, saya malah bisa mengaji. Dimana awalnya saya minta diajari sesama tahanan lain,” ungkap Wahyudi yang ditangkap oleh Satnarkoba Polda Jateng di daerah Purwosari, Laweyan beberapa bulan lalu.

Wahyudi malah lebih leluasa mengaji sejak menjalani penahanan. “Sebab sebelum ditangkap saya tidak bisa mengaji dan tidak menjalankan ibadah,” jelasnya.

Datangnya bulan suci Ramadan, Rutan Kelas I Surakarta penuh dengan kegiatan keagamaan, seperti pesantren kilat, ngaji bareng, buka puasa bersama, salat taraweh berjamaah hingga tadarus hingga salat malam.

Kegiatan tersebut menurut Karutan Kelas I Surakarta, Urip Dharma Yoga sebagai upaya agar warga binaan sadar dan tidak kembali mengambil jalan yang salah usai keluar dari penjara.

Tujuan lain, lanjut Karutan, apabila warga binaan usai menjalani hukuman hendaknya mendapatkan hidayah, menempuh jalan yang lurus. Jangan sampai, apa yang telah dilakukan saat ini dilakukan kembali dimasa mendatang. Sehingga, mengantarkan mereka kembali ke Rutan.

“Apa yang sudah terjadi tidak usah disesali. Jadikan pengalaman untuk menjadi insan yang lebih baik dikemudian hari,” paparnya. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan