Kapolri, Menpora dan Ketum PSSI Dinilai Ceroboh

0
pssi-kemenpora-solo
FOTO/DOK

*Imbas Kerusuhan di Bandung dan Kerumunan Massa di Bundaran HI

JAKARTA, suaramerdekasolo.com– Insiden kerusuhan di Bandung hingga kerumunan suporter sepakbola di Bundaran HI Jakarta menuai kecaman.

Ekses peristiwa tersebut yang dipicu atas penyelenggaraan pertandingan sepakbola Piala Menpora itu, Ind Police Watch (IPW) mendesak Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI meminta maaf kepada masyarakat.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menilai kedua aksi itu terjadi akibat kecerobohan Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI, setelah ketiganya nekat menggulirkan Piala Menpora di tengah pandemi Covid 19.

“Sebagai tanggungjawab moral, Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI harus segera mengganti semua kerusakan dan kerugian masyarakat yang disebabkan amuk suporter, terutama di Bandung,” tegas Neta dalam pernyataannya yang dirilis, Selasa (27/4).

Adanya peristiwa tersebut, IPW mengecam keras pernyataan Menpora yang meminta Polri segera menangkap para suporter yang memprakarsai aksi kerumunan.

Pernyataan Menpora tersebut dinilai Pane salah kaprah. Seharusnya dengan adanya kedua peristiwa di Bandung dan Jakarta itu, Menpora yang segera mundur dari jabatannya. Sebab kompetisi yang membawa label kementeriannya itu tidak bisa dipertanggungjawabkan keamanannya maupun ketertibannya, sehingga terjadi amuk massa dan kerumunan pasca Final Piala Menpora yang digelar di Stadion Manahan, Minggu (25/4) malam.

Ditambahkan Pane, imbas yang terjadi itu menjadi tanggungjawab Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI. Akibat kecerobohan ketiganya itu, jangan kemudian tanggungjawabnya dileparkan kepada suporter. Lalu para pendukung sepak bola dengan semena mena ditangkap dan diproses secara hukum oleh aparat kepolisian.

Di sisi lain, lanjut Neta, peristiwa amuk suporter di Bandung dan kerumunan suporter mengepung Bundaran HI membuka mata publik betapa lemahnya intelijen dan aparatur cyber Polri untuk mendeteksi sejak dini akan adanya kejadian tersebut.

Akibat lemahnya intelijen dan cyber police, semuanya terbiarkan tanpa diantisipasi dan dideteksi dini. Petugas kepolisian baru sibuk dan kebingungan setelah massa berkumpul dan mengamuk. Bayangkan, jika aksi pengepungan massa itu terjadi di depan Istana Kepresidenan, apa jadinya?.

Dalam permasalahan yang muncul, IPW menilai Polri sudah kebobolan. Antisipasi, deteksi dini, dan kepekaannya sangat lemah. Padahal rencana aksi itu sudah muncul di medsos beberapa jam sebelumnya dan Polri tidak dapat mengantisipasinya.

Sekarang setelah amuk suporter terjadi dan aksi kerumunan massa di Bundaran HI terjadi, Polri baru sibuk hendak memburu medsos pemrakarsanya. Polri lagi lagi hanya menjadi pemadam kebakaran yang sangat jauh dari konsep Presisi.

Untuk itu IPW berharap, Polri tidak perlu menangkap dan memproses hukum para suporter. Sebab tanggungjawab semua itu ada di Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI yang tetap nekat menggulirkan Piala Menpora di tengah pandemi Covid 19.

“Untuk itu, IPW juga mendesak Kapolri, Menpora, dan Ketum PSSI selain meminta maaf kepada masyarakat juga mengganti semua kerusakan maupun kerugian yang timbul adanya aksi kerusuhan suporter di Bandung maupun penggerahan massa di Bundaran HI yang rentan adanya penyebaran virus covid-19. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan