Komandan Regu Jihad di Filipina Ajak Anak Muda Tolak Instoleransi, Radikalisme dan Aksi Terorisme

0
mahmudi-haryono-mantan-teroris
TESTIMONI- Mantan Komandan Regu Jihad di Filipina, Mahmudi Haryono alias Yusuf menyampaikan testimoni dengan mengajak anak-anak muda menolak aksi instoleransi, paham radikalisme dan aksi teror yang diunggah di medsos beberapa hari lalu. (suaramerdekasolo.com/dokumentasi)

*Setelah Kembali ke Pangkuan NKRI

SOLO, suaramerdekasolo.com– Eks narapidana teroris (napiter) yang pernah menjadi Komandan Regu Jihad di Filipina, Mahmudi Haryono alias Yusuf menyampaikan testimoni mengejutkan.

Di tengah situasi aksi teroris masih menghantui bangsa Indonesia, seperti kejadian pengeboman Gereja Katedral Makasar dan seorang perempuan menyerang di Markas Polri beberapa waktu lalu, hal itu membuat Mahmudi Haryono geram.

Atas berbagai aksi teror tersebut, mantan tokoh jaringan Jamaah Islamiyah (JI) itu mengajak masyarakat Jawa Tengah khususnya anak muda atau kaum milenial untuk menolak berbagai aksi instoleransi, radikalisme hingga aksi teroris.

Aksi tersebut menurut Mahmudi Haryono selaku Ketua Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (PERSADANI) Semarang, sangat merugikan masyarakat atau anggota Polri yang tidak berdosa.

Selain mengajak kepada masyarakat Jawa Tengah khususnya generasi muda, kaum milenial menolak paham radikalisme, terorisme, dan intoleransi, Yusuf juga berharap kepada masyarakat di wilayah Jawa Tengah mendukung kinerja Polda Jawa Tengah dalam mencegah, menangkal berbagai kelompok garis keras atau ekstrim kanan demi terciptanya keamanan, ketertiban masyarakat yang aman, damai, dan sejuk.

Yusuf yang sudah dalam pangkuan ibu pertiwi punya slogan yang memberikan motivasi atau semangat bagi orang lain yakni Toleransi, “Yes!”, Radikalisme, “No!”.

Pernyataan tegas menolak instoleransi, paham radikalisme hingga aksi teror yang disampaikan Mahmudi Haryono atau Yusuf secara terbuka dan diunggah di media sosial (medsos) beberapa hari lalu.

Seperti diketahui, Mahmudi Haryono atau Yusuf pernah terlibat dalam perang di Filipina.

Setelah kembali di Indonesia, Yusuf ditangkap bersama tiga rekannya, Siswanto, Heru Setiawan dan Luluk Sumaryono, akibat menyimpan bahan peledak seberat 1 ton di Jalan Taman Sri Rejeki VII/2, Semarang pada Tahun 2003.

Yusuf yang dituntut jaksa selama 20 tahun, oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang, divonis 10 tahun penjara.

Yusuf ditangkap Densus 88 dirumah kontrakannya, karena kedapatan menyimpan amunisi dan 26 bom rakitan yang diperkirakan daya ledaknya dua kali lipat dari Bom Bali.
Bahan peledak tersebut titipan dari tersangka Bom JW Marriot 2003, Musthofa alias Abu Tholut yang sudah lebih dulu ditangkap di Bekasi dan divonis 7 tahun penjara. (Sri Hartanto)

Tinggalkan Pesan