10 Warga Binaan Raih Reward dalam Giat Ngaji Bareng di Rutan Solo

0
reward-napiter
REWARD : Brian Tirta, salah satu narapidana yang mendapat reward setelah lancar membaca Alquran dalam giat Pesantren Kilat di Rutan Kelas I Surakarta, Sabtu (8/5/2021). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SOLO, suaramerdekasolo.com– Tak dinyana dan tak disangka sepuluh warga binaan Rutan Kelas I Surakarta yang mengikuti kegiatan ngaji bareng mendapat surprise.

Selain terpilih menjadi peserta yang lancar membaca Alquran dari 100 peserta pesantren kilat, mereka mendapat kejutan yakni dipertemukan ibunya melihat putra-putranya sudah pintar mengaji.

Pertemuan anak dan ibu tersebut berlangsung usai pelaksanaan ngaji bareng dalam giat pesantren kilat selama bulan Ramadan yang ditutup pada Sabtu (8/5).

Betapa terharunya pertemuan ibu dan putra di dalam rutan setelah satu tahun lebih mereka tidak bertemu sejak terjadinya pandemi covid-19.

Begitu anaknya terpilih menjadi peserta pesantren kilat terbaik, mereka baru dipertemukan ibunya. Tak ayal anaknya ada yang bersimpuh dihadapan ibunya, ada yang memeluk ibunya sambil menangis sembari meminta maaf atas apa yang telah diperbuatnya hingga masuk penjara.

Diantara warga binaan yang mendapat kesempatan bertemu ibunya yakni Brian Tirta menyampaikan bertemu orang tuanya sebagai momentum seperti melihat surga.

“Harapan saya, ingin segera keluar. Ingin membahagiakan kedua orang tua,” ucapnya lirih usai mendapat reward sebagai salah satu peserta terbaik dalam katam Alquran.

Pria yang merupakan satu di antara narapidana kasus intoleran di Mertodranan, Pasar Kliwon itu berharap ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pada kesempatan itu, Kepala Rutan Kelas I Surakarta, Urip Dharma Yoga mengungkapkan sebanyak 10 dari 100 peserta pesantren kilat mendapatkan kesempatan bertemu ibu masing-masing.

“Dari keseriusan mereka ikut, maka panitia memilih 10 warga binaan itu untuk diberikan reward. Mereka mendapatkan hadiah membaca Al Quran di depan peserta dan petugas. Juga kami secara diam-diam menghadirkan ibu kandung mereka,” ungkapnya.

Karutan menambahkan, ibu kandung warga binaan dihadirkan ke rutan tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. Selain itu, 10 ibu kandung warga binaan itu juga dilakukan tes Covid-19.

“Kami terkejut dan terkesima. Artinya kami memiliki rasa seperti warga binaan juga, kelak bagi warga binaan yang mendapat reward ketika kembali ke masyarakat dapat menjadi pioner perubahan yakni sebagai sosok yang baik di tengah masyarakat,” tandasnya. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan