Tatah Sungging, Seni Membuat Wayang Kulit di Sonorejo, Sukoharjo

0
TATAH SUNGGING : Kampung Kayen, Sonorejo ini, merupakan sentral dari kerajinan tatah sungging atau membuat wayang kulit yang masih bertahan hingga sekarang. (Suaramerdekasolo.com/Heru Susilo).

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Kabupaten Sukoharjo menyimpan sejumlah potensi kerajinan yang tidak dimiliki oleh daerah lain dan memiliki nilai sejarah dan seni budaya yang sangat kental. Salah satunya adalah kerajinan tatah sungging atau membuat wayang kulit di kampung Kayen, Kelurahan Sonorejo.
Tidak semua orang mampu mengerjakan kerajinan ini, mengingat tingkat kerumitan dalam membuatnya sangat tinggi. Mulai dari memilih kulit kerbau yang akan dijadikan bahan, menggambar hingga menatah (memahat) serta nyungging (mewarnai). Marwanto, warga Kayen RT 2/7, Sonorejo merupakan salah satu perajin yang masih bertahan hingga sekarang. Pria yang tercatat sebagai Ketua RT 2 ini sudah mempunyai enam pekerja yang semuanya merupakan ahli-ahli tatah sungging.
Ditemui di rumahnya, pria ramah ini menceritakan perjalanan panjang menjadi perajin tatah sungging sejak tahun 1991 silam. Saat itu, di kampungnya terdapat sekitar 20 an perajin yang menggeluti pembuatan wayang kulit.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan perajin makin menyusut dan yang tersisa tinggal enam saja. Salah satunya adalah dia. “Dulu hampir di setiap rumah warga itu pekerjaannya membuat wayang. Ada yang natah, ada yang nyungging dan menyiapkan bahan-bahannya,” kenang Marwanto.
Menurut dia, membuat wayang bukanlah pekerjaan mudah. Hampir dalam smeua proses tersebut membutuhkan kecermatan dan fokus tinggi. Sebab, natah wayang tidak bisa dilakukan dan sudah ada pakem (aturan) sehingga tidak bisa dilakukan sembarangan. Begitu juga dengan proses nyungging atau mewarnai wayang yang sudah ditatah, juga butuh skill yang mumpuni. Sebab, memberikan warna pada wayang membutuhkan kejelian dan harus detil.
Karena itu, tidak heran jika membuat wayang ukuran kecil bisa membutuhkan waktu hingga satu bulan lamanya. Sedang untuk yang ukuran besar (Buto), butuh waktu sekitar dua bulan. “Memang tidak bisa sembarangan dalam memberikan warna dan pahatan (sungging). Semua harus detil dan jelas,” imbuhnya.
Dengan proses yang sedemikian rumit itu, tidak heran jika para pekerja yang mengerjakan mempunyai skill sendiri-sendiri. Ada yang ahli gambar, memahat (natah) dan ada yang spesialis nyungging. Satu kesalahan sedikit saja, kata dia, akan menghasilkan produk yang cacat dan menurunkan nilai serta kualitas wayang.
Proses panjang itulah yang menyebabkan nilai wayang menjadi tinggi. Untuk kualitas 1 dengan ukuran wayang kecil hingga sedang bisa mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Sedang untuk ukuran besar nilainya bisa mencapai Rp 6-7 juta/wayang. “Memang mahal karena kualitasnya kulitnya, halusnya produk juga terbaik.”
Selain harga yang mahal, Marwanto mengakui tidak semua orang suka dengan wayang. Karena itulah, selama ini yang menjadi konsumen terbesarnya adalah dalang. Di luar itu adalah kolektor serta pejabat-pejabat yang akan menggunakan wayang sebagai koleksi pribadi hingga souvenir.
Kendati demikian, dia patut berbangga karena produknya selama ini telah dikenal luas di Nusantara bahkan dunia. Dalang-dalang kondang di tanah air dipastikan sudah pernah memesan produk wayangnya.
“Memang kalau diruntut cikal bakal kerajinan tatah sungging ini bukan di Sonorejo, tetapi di dukuh Gedong yang ada di sebelah Sonorejo. Hanya saja, dari sisi kualitas, produk Sonorejo ini lebih baik dan unggul.”
Lelaki ini juga mengaku tetap bertahan dengan cara pemasaran konvensional dari mulut ke mulut dibandingkan dengan melalui medsos. Sebab menurut dia, pangsa pasar wayangnya sudah jelas dan kalangan tertentu.
“Saya sama sekali tidak menggunakan medsos, karena pangsa pasar saya sudah jelas. Makin sering dalang itu laku (manggung) peluang membeli wayang makin tinggi. Sebab wayangnya akan segera rusak,” ujarnya sembari terkekeh.

Regenerasi

Satu hal yang menjadi kegelisahan Marwanto adalah bagaimana ke depan kelangsungan kerajinan bernilai seni tinggi ini mampu untuk terus bertahan. Sebab, jika dilihat dari sekarang, minat orang utamanya anak muda untuk bertahan dan belajar natah sungging, sudah makin luntur. Mereka lebih memilih melakukan pekerjaan yang lain.
“Regerasi ini memang menjadi salah satu hal yang mesti dipikirkan, tidak hanya oleh kami tetapi oleh pemerintah. Karena itu, kami selaku perajin berharap ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk terus melestarikannya. Tidak sekedar bagaimana caranya memasarkan tetapi lebih pada mempertahankan ini sebagai sebuah warisan budaya dan seni.” (Heru susilo)

Tinggalkan Pesan